GURU BIANG MUTU
9 Januari 2008 at 11:09 am | In Pendidikan | 7 CommentsSalah satu komponen paling penting yang menentukan baik buruknya mutu pendidikan adalah guru. Sayangnya hingga kini keberadaan guru kita masih dihimpit persoalan-persoalan berat, mulai dari distribusinya tidak merata, kualifikasi dan kompetensinya yang tidak memadai, gajinya yang rendah, hingga ketidaksepadanan antara latarbelakang pendidikan yang ditempuhnya dengan bidang yang diajarkannya di sekolah(mismatch). Bagaimana memecahkan nya? (Disadur dari KTI-ONLINE)
Lagi-lagi guru, sebagai biang rendahnya mutu pendidikan
Barangkali saya termasuk kategori yang dimaksud di atas, tidak kompeten, cari penghasilan tambahan, dan mengajar beberapa mata pelajaran (Kimia, TIK, Bahasa Indonesia) pernah juga mengajar Seni, keterampilan, Bahasa Inggris, Matematika. Jelas ini tidak profesional komentar teman sejawat saya. Hal ini dianalogikan dengan pemain sepak bola profesional luar negeri, seluruh waktunya dicurahkan untuk main bola. Berbeda dengan pemain sepak bola di Indonesia, dikala sedang main bola diselingi tinju, karate, berlagak wasit atau diluar main bola mengojek untuk mencari tambahan penghasilan. Saya sependapat dengan komentar teman tersebut, bahwa saya tidak profesional serta tidak berhak mendapat sertifikasi pendidik.
Lagi-lagi guru, sebagai biang rendahnya mutu pendidikan
Guru dicetak oleh LPTK negeri maupun swasta. Gurunya calon guru adalah dosen. Para calon guru pada masa saya SMA-hingga kuliah (mungkin hingga sekarang) adalah anak-anak ranking tengah ke bawah ketika masih duduk di bangku SMA, selain itu juga tingkat ekonominya juga rata-rata menengah ke bawah hal ini dapat dilihat ketika kuliah hampir tidak ada calon guru kuliah membawa mobil. Pertimbangan beberapa orang tua untuk menyekolahkan anak agar menjadi guru adalah karena rekrutmen menjadi guru sangat mudah, keperluan guru juga besar. Sama sekali bukan karena pertimbangan moral bahwa dengan menjadi guru, otomatis akan menjadi pahlawan (tanpa tanda jasa).
Proses pencetakan guru yang begitu mudah, rekrutmen guru yang tidak selektif tidak pernah dikaji sebagai salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan. Apalagi gurunya calon guru, mereka selalu dianggap bukan guru. Sepertinya setiap dosen berhak mencetak guru, atau memberikan akta IV walaupun mahasiswanya berasal dari sarjana hukum atau teknik. Saya lebih menyebutnya sebagai KEJAR PAKET D,setelah keberhasilan Kejar Paket A, B dan C.
Banyak sekali LPTK yang statusnya meragukan dapat mencetak calon guru, banyak juga Perguruan Tinggi Negeri yang membuka program kelas jauh atau program akta bagi yang berminat menjadi guru. Belum lagi siapa staf pengajarnya, berkualifikasikah mereka mencetak calon guru. Di salah satu sisi banyak sekali calon guru yang menunggu dapat diangkat menjadi guru tetap, di sisi lain proses pencetakan calon guru seperti membuat kacang goreng sehingga calon guru menumpuk, menambah deretan pengangguran.
Ketika pengumuman penerimaan calon guru, sebagian besar berkomentar kok tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Hal ini dilanjutkan lagi penempetan yang banyak ditentukan oleh calon guru, bukan berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Lagi-lagi guru, sebagai biang rendahnya mutu pendidikan
Di mana kesalahan LPTK
Di mana kesalahan dosen
Di mana kesalahan DPR
Di mana kesalahan pemerintah
Di mana kesalahan masyarakat
Di mana kesalahan kurikulum
Di mana ya…..
Bagaimana pemecahannya ? menurut saya jika gaji guru setara menteri, pasti yang sekolah menjadi calon guru adalah orang-orang pintar ketika di SMA, akhirnya akan dihasilkan guru yang pintar-pintar dan ketika ditempatkan di daerah terpencil juga tidak akan sibuk pindah ke kota agar mudah mencari tambahan. Kok gaji lagi, kok duit lagi, kok kesejahteraan lagi. He……he…..he
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.








Dalam sebuah sistem pendidikan di suatu negara,
guru jadi aktor yang penting karena posisinya berhadapan langsung dengan siswa.
Itu sebabnya, mari kita tingkatkan terus kompetensi diri.
Salam kenal pak
Saya mohon izin tautkan blog anda yang mantap ini
Komentar oleh agusampurno — 17 Januari 2008 #
terima kasih mau singgah di blog guru goblog, salam kenal juga
Komentar oleh budi — 18 Januari 2008 #
kita berharap sertifikasi ini “gol”..!!! kalau toh di sana sini masih banyak polemik, pendidikan 10 tahun ke depan InsyaAlloh akan bagus. sebab dengan keluarnya uang sertifikasi aku bisa beli komputer…., bisa nginternet, bisa bayar pembantu…, jadi…aku bisa konsentrasi pada profesiku. aku berharap teman-teman guru yang lain dapat menjaga harga diri guru dengan kinerjanya yang bagus.
Komentar oleh mbak in Njeporo — 8 Februari 2008 #
Hayooo pak… tantangan lho yuk sama-sama berjuang… (tapi saya bukan guru.. gpp khan…)
Komentar oleh Syarif Winata — 9 Februari 2008 #
pak agus : alangkah indahnya kalau sampean juga menampilkan alamat blog yg sampean miliki, biar kita bisa saling curhat masalah kita bersama yaitu pendidikan. walaupun masih banyak teman-teman guru yang masih NONBLOG, tapi saya tidak bermaksud membuat BLOK-BLOK ekslusif. karena pendidikan tidak bisa dibikin blok-blok
mBak In : adalah kakakku sekaligus orang tuaku, aku banyak belajar bagaimana menjadi guru dari mBak In. supportnya terus tak harap
bung Syarif : persis sekali dengan yang saya harap, bahwa rendahnya mutu pendidikan bukan hanya di pundak guru. bolehkah saya bernyanyi lagunya Iwan IZINKAN AKU NGELINK BLOGMU
Komentar oleh budi — 10 Februari 2008 #
kunjungi blog saya di taufik79.wordpress.com ya
Komentar oleh taufik79 — 5 Maret 2008 #
Ketika SMA dulu Kepsek bertanya kepada 10 besar siswa ranking 1-10 kalo lulus nanti mau mau melanjutkan kemana? hanya 1 yang maumenjadi guru.Jika input menjadi guru dari sorang yang kualitasnya kurang bagaimana dengan guru yang sekarang? Mengapa banyak orang mau jadi dokter atau insinyur karena dianggapsecara sosial mendapatkan paenghasilan yang lebih. Pemerintah mulai memparbaiki hal ini dengan meningkatkan kesejahteraan guru. agar kelak ankdidikyang cerdas berlomba-lomba mau menjadi gur. Ada tiga kemungkinan orang mau jadi guru : 1}.Tidakmampu berkompetisimasukFakultas Elit 2). Cerdas,Tidakmampu,ingin cepat kerja 3).Panggilan hati,cita-cita. Kita adalah guru termasuk kategorimana……?
Komentar oleh Listin Ngantung — 11 Maret 2008 #