Beranda > muatan lokal > Muatan LOKAL

Muatan LOKAL

Dari apa yang tersurat sudah jelas ada kandungan lokal dalam muatan pembelajaran, tetapi bukan melokalisasi apalagi mengarah ke disintegrasi. Rasa kecintaan terhadap lokal harus ditanamkan pada anak-anak usia sekolah hingga pejabat lokal agar secara nasional punya kekuatan yang mandiri dan berdikari.

Beberapa hari yang lalu ketika mengajar di kelas X, saya menanyakan kepada siswa, “Ada berapa kecamatan di Kabupaten Barito Timur?”. sebagian besar menjawab 5 ada beberapa yang 6 dan 8. Melihat tidak ada yang menjawab benar, saya memberitahu bahwa ada 10 kecamatan. Lantas saya meminta siswa untuk menyebutkan nama-nama kecamatan yang saya maksud. tidak seorang siswapun dapat menjawab dengan benar, sungguh memprihatinkan.

Tidak mengherankan memang jika ternyata anak-anak tidak mengerti perkembangan yang terjadi di daerahnya. Bahwa ternyata di Kebupaten Barito Timur telah mengadakan pemekaran kecamatan dari 6 kecamatan menjadi 9 kecamatan lalu pada bulan Februari 2008 menjadi 10 kecamatan.  Referensi anak-anak untuk melihat perkembangan di Barito Timur telah disediakan pemda di situs http://www.baritotmurkab.go.id namun informasi yang disajikan tidak “uptodate”. Pada awal bulan Mei saya masih melihat jumlah kecamatan di situs tersebut masih 6 kecamatan.

Apa yang terjadi, apa yang potensial, apa yang seharusnya diketahui warga seharusnya disampaikan ke guru-guru agar guru dapat menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan daerah dan program daerah. Masih terkesan bahwa guru hanya mengajar berhitung, mengajar sopan santun, mengajar beribadah.

Sepertinya guru tak perlu tahu apa yang terjadi dan akan terjadi di daerahnya.

Sepertinya guru tak perlu diajak bicara untuk menentukan masa depan daerahnya.

Sepertinya guru dianggap tidak mengerti tentang pembangunan manusia.

Sepertinya guru itu orang yang kampungan, tak punya informasi.

Sehingga tak perlu diajak bicara, tak perlu tahu apa urusan daerah.

Melaui muatan lokal, pemda dapat menyampaikan visi dan misi daerah. Mau tidak mau pemda juga bertanggung jawab tentang kemajuan pendidikan di daerahnya, karena kalau kita berbicara 10-15 tahun ke depan, maka subyek pembicaraan kita adalah anak-anak usia sekolah. Guru dapat dijadikan “corong’ untuk menyosialisaikan visi dan misi daerah. Bahkan jika perlu guru diajak bicara tentang kemana arah tujuan daerah. Jika DPR bisa ganti, bupati bisa ganti, kepala dinas bisa ganti maka guru tetap guru. Guru harus tahu, guru harus pintar, guru harus…….(sementara ini terkesan guru hanyalah obyek dalam hal pendidikan, bukan subyek yang ikut menentukan pendidikan dan sumber daya manusia)

About these ads
  1. hardjanadt
    23 Desember 2009 pukul 11:41 am | #1

    pembelajaran muatan lokal dengan meninggalkan potensi, keunggulan lokal adalah sesuatu yang tidak mungkin. pembelajaran akan menjadi absurd. masak kuman di seberang tak tampak, gajah di pelupuk pun tak tampak. muatan lokal bukti kewenangan (kewajiban?) pemerintah daerah dalam pendidikan. bukankah kita hidup dalam kearifan lokal yang telah teruji jaman. hidup muatan lokal! di malang banyak anak sekolah nggak kenal topeng malang yang mashur itu, lo pak!
    .
    .
    @terima kasih telah memberi masukan yang kontruktif…viva pendidikan

  2. wyd
    6 Januari 2009 pukul 11:01 pm | #2

    wah pak saya ga jauh beda sama anak2 bapak…. saya malah ga tahu kabupaten/kota apa yang berbatasan langsung dengan kota tempat saya tinggal.

  3. DUDISAPARI
    27 November 2008 pukul 10:04 pm | #3

    MUATAN LOKAL MEMANG HARUS DITINGKATKAN SEBAB ANAK – ANAK SKARANG KAYANYA SUDAH TIDAK PEDULI LAGI DENGAN BUDAYA DAERAHNYA SENDIRI, KALAU BOLEH MAH DIBUAT WAJIB DI DAERAHNYA MASING – MASING. TERIMAKASIH

  4. 11 Agustus 2008 pukul 9:18 pm | #4

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Mulok merupakan barometer keseriusan guru daerah untuk memperhatikan keunggulan lokal yang mau ditonjolkan. Kalau kita mau menonjolkan kemalasan maka terapkan mulok ” me – LAS ” hati, tekad agar kemalasan tetap bertahan.
    Permen No. 11 Tahun 2005 Pasal 6 (2) mengamanatkan “Dalam hal Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangan masing-masing belum menetapkan buku-buku teks pelajaran muatan lokal, rapat guru dengan pertimbangan komite sekolah dapat memilih buku yang ada dengan mempertimbangkan mutu buku”.
    Itulah fleksibelitas KTSP, sehingga tuntutan desentralisasi pendidikan bisa terjawab.

    @masih berkaitan dengan KTSP, malasah libur nanti di bulan Puasa, katanya kita nunggu edaran dari dinas, nunggu keputusan bupati. Dari pernyataan itu bisa ditebak bahwa sekolah itu tidak bikin kalender pendidikan atau tidak bikin KTSP. Lha iya memang, sekolahku belum bikin KTSP walaupun kalau ditanya pasti jawabnya melaksanakan KTSP. Lha apa ini boleh dianalogikan berjalan tanpa arah?

  5. 21 Juli 2008 pukul 11:32 am | #5

    salam kenal
    saya juga seorang guru, sangat setuju jika muatan lokal harus ada di sekolah, tapi bukan berarti muatan lokal adalah bahasa daerah lokal, karena akan menyulitkan siswa dari daerah lain yang ingin sekolah di tempat itu.
    kunjungi juga blog saya di http://www.matematikaitah.blogspot.com

    @saya sependapat juga, bahwa muatan lokal tidak harus bahasa daerah. yang penting merupakan unggulan daerah. Bahkan saya pernah usul gimana kalau muatan lokal bahasa Thailand? karena di depan sekolah ada perusahaan Thailindo

  6. 21 Juli 2008 pukul 11:31 am | #6

    salam kenal
    saya juga seorang guru, sangat setuju jika muatan lokal harus ada di sekolah, tapi bukan berarti muatan lokal adalah bahasa daerah lokal, karena akan menyulitkan siswa dari daerah lain yang ingin sekolah di tempat itu.

  7. 22 Juni 2008 pukul 9:00 pm | #7

    pak saya tautkan tulisannya biar ramai

  8. 31 Mei 2008 pukul 11:18 am | #8

    (sebagai pelajar) tak ada salahnya mengajarkan apa yang ada didaerahnya. Informasi (pengetahuan) tidak boleh ditutupi. Wah, saya mah klo dikelas gak belajar tentang daerah di sekitar saya. Bahasa sunda pun tidak dimasukkan ke daftar pelajaran untuk angkatan saya. Tapi, angkatan sekarang sudah memasukkannya. Jadi, sampai sekarang, saya belum mahir basa sunda. wahhhh,,, kumaha atuh..

  9. 30 Mei 2008 pukul 11:12 pm | #9

    Barangkali hanya opini. saya berpendapat mulok adalah bagian dari pengakuan otonomi pendidikan,otonomi sekolah dan otonomi daerah. Tidak salah memang jika guru/sekolah membuat SK/KD sendiri,tapi menurut saya inilah saatnya daerah dalam hal ini pemda untuk ikut peduli pendidikan, memaksimalkan SDM melalui mulok. Selama ini mulok di daerah saya hanya seadanya, asal ada, sebisanya guru, tanpa dukungan yang jelas. alangkah sangat berfanfaat kalau pemda peduli pendidikan melalui mulok.

  10. 30 Mei 2008 pukul 3:53 pm | #10

    Sepertinya mengampu mapel mulok tdk gampang. Guru, tentu dengan persetujuan sekolah harus menentukan sendiri SK/KD. Setahu saya, untuk kab. H.S.U tdk ada penyeragaman/standarisasi mapel mulok. Entah di tempat Bapak.

  11. 29 Mei 2008 pukul 11:59 pm | #11

    Lama tak sua, lama tak kunjung ke rumah Pak Budi…, lama tak ….
    Oh…ya, bener juga tuh kalau Guru dapat dijadikan “corong’ untuk menyosialisaikan misi? (apa visi?) dan misi daerah, bahkan jika perlu guru diajak bicara tentang kemana arah tujuan daerah, tentu mudah bagi guru menyusun KTSP sekolah di bidangnya masing-masing.
    Sekarang itu kebanyakan anak kalau ditanya ke mana arah tempat mancing mungkin lebih tahu ketimbang jumlah kecamatan di daerah sendiri, apalagi peta daerah…. bahkan batas daerahnya….

  12. 29 Mei 2008 pukul 11:28 pm | #12

    Hayya … guru-guru yang ‘berdosa’ atas pengetahuan kelokalan adalah guru yang mencabut pengetahuan lokal dalam pembelajaran. Pendidikan yang baik selalu dimulai dari hal paling dekta, aling bermanfaatn, dan setrusnya. Bukan gaya guru dungu, apalagi guru penjajah seperti era kolonialisnme dulu. Sampai-sampai, lekuk-lekuk Amsterdam dihapalkan, tetapi tidak paham, ada berapa sekolah di Barito Timur, siapa bupati, dan apa saja lokal jeniusnya, dan bla-bla-bla. Muatan lokal kalau dihubng-hubungkan dengan disintegrasi, itu berasal dari pikiran kuno. Salam.

  13. 28 Mei 2008 pukul 4:06 pm | #13

    saya kepingin gurunya yang menguasai daerah secara total, baik tentang wilayah, demografi sampai masalah politik. Kalau gurunya pinter/kaya informasi, pasti khan peserta didiknya pintar-pintar dan siap bersaing

  14. suhadinet
    28 Mei 2008 pukul 11:16 am | #14

    Lama gak mampir ke rumah Pak Budi. Btw benar, anak-anak sering tidak mengenal daerahnya sendiri.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.602 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: