Beranda > Ide-ide > PERKELAHIAN ANTARGURU

PERKELAHIAN ANTARGURU

Perkelahian antarpelajar kerap sekali kita mendengar, hal ini dikaitkan dengan jiwa emosional usia anak sekolah dan kegagalan pendidikan budi santosa pekerti. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa ini bagian dari kegagalan proses pendidikan baik di sekolah maupun di dalam keluarga. Tidak sedikit juga siaran televisi yang menyiarkan perkelahian antarmahasiswa, lantas apa sebabnya. Mahasiswa yang berkelahi ada yang diawali hanya saling ejek. Begitu mudahnya alasan untuk berkelahi.

Perkelahian antarkampungpun tidak mau kalah dalam mengisi acara di televisi. Alasannya juga berawal dari saling ejek. Ketika masih SD dulu saya diceritain oleh guru agama bahwa ada pemimpin yang tidak pernah marah jika diejek hingga dilempari. Justru sang pemimpin ini mendoakan agar yang mengejek menjadi sadar lalu mengikuti jejaknya. Sang pemimpin tidak pergi ke DPR untuk membuat undang-undang tentang pasal “pengejekan”, pasal penghinaan, pasal mencemarkan nama baik. Tapi itu dulu(sekitar tahun 600an)… sekarang siapa berani mengejek pemimpin?

Yang mengherankan itu kalau kelompok-kelompok profesional ikutan berkelahi, seperti perkelahian pemain sepak bola, perkelahian antar-anggota TNI dengan anggota Polri, perkelahian antar-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Kalau kasus seperti ini apa penyebabnya? apakah karena pingin masuk siaran TV?

Perkelahian antarkampung mungkin hal yang wajar, karena memang di sekolah, di kampus, di dewan semua suka berkelahi. Namun satu lagi yang barangkali kita tunggu-tunggu adalah perkelahian antarguru. Kalau ini benar-benar terjadi, pasti seru sekali, siswa akan senang karena libur. Siswa juga akan senang karena biasanya guru hanya berbicara masalah moral. Siswa juga senang karena memiliki guru-guru yang jago, hebat, jantan, macho dan mereka akan ikut mempromosikan bahwa sekolah mereka sekolah yang hebat dalam dunia perkelahian.

Mungkin dengan adanya perkelahian guru, pendidikan di negeri ini akan cepat maju. Semua kalangan akan melihat guru dan mulai melirik pentingnya pendidikan untuk dipikir bersama. Biasanya sesuatu akan diperhatikan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Masalah yag dihadapi guru adalah takut kalau berkelahi itu menyebabkan baju tidak rapi lagi, seterikaannya gak licin lagi.

  1. 22 Juli 2010 pada 1:08 pm | #1

    kan kalau peajar yang tawuran kan udah biasa he he he
    ni malah guruny a…
    ya wajar kalau muridnya ikut
    kan guru di dudu dan di tiru … :-P

  2. 18 Desember 2008 pada 3:10 pm | #2

    Iyaaaam guru itu harus digugu lan ditiru

  3. 19 November 2008 pada 10:12 pm | #3

    berkunjung kembali dalam blog guru yang sarat makna dan cerita,
    sharing sharing hihihihi … cuma pengalaman doang dan nampang dikit di halaman belakang koran itu aja nih pak Budi,
    btw tahun depan kalo ada lagi award-award atau kompetisi-kompetisi nge-blog guru nge-blog kita diskusikan rame-rame biar seru, soalnya jarang-jarang lo guru diliatin melotot ngotot ngeblog untuk nggak bikin siswa goblok tapi go blog :lol:

  4. 18 November 2008 pada 1:15 pm | #4

    kalau memang iya, dunia akan berkata “biarpun guru-guru sampe berkelahi, pendidikan juga akan gini-gini saja”. atau bahkan sebailknya, lha wong tidk ada prkelahian guru saja pendidikan sudah ancur, apalagi kalau ditambah permasalahan yang seharusnya tidak terjadi

  5. hartati
    18 November 2008 pada 11:58 am | #5

    kalo saja iya……, ya ga pa2. Yang pasti apa kata dunia….

  6. 15 November 2008 pada 11:51 pm | #6

    Jumpa lagi pak Bud. Perkelahian antar guru…!? Wah, sangat mengerikan pak. Nanti semua guru harus menyiapkan sarung tinju. Tapi… boleh juga tuh judulnya untuk sebuah cerpen. Terima kasih pak, salam hormat.

  7. 6 November 2008 pada 5:47 am | #7

    perlu juga untuk menunjukkan kejantanannya
    dan kebetinaan sang guru :lol:

    judul tulisan Bapak Budi benar-benar menyedot perhatian …

    selamat menulis Pak
    Salam Sehat Selalu
    .
    .
    @rudy: wah bisa aja pak Rudy ni.. gimana nih oleh-oleh dari jawa. talking-talking competition what sih? kok not sharing-sharing…

  8. 26 Oktober 2008 pada 3:09 pm | #8

    huahahahaha…..
    pak guru yang satu ini emang hebat.
    dapet umpan pak? keyword nya? :D
    halah jadi kebalik-balik
    yaudah sukses pak dengan keyword. (halah)
    saya juga terpancing dengan judul, halah ternyata…
    hmmm
    bagus.bagus.bagus
    wekekekeke
    halah terlalu panjang.
    sori waton nulis.
    .
    .
    @masedewe : halah.. iki mesti ngeyek aku, nulise sembarang. coba sampean tanyao guru-guru ndik Ngawi, kenapa pada gak wani berkelahi

  9. 25 Oktober 2008 pada 12:26 pm | #9

    yah, memprihatinkan ya dunia pendidikan kita. sampai-sampai guru aja ikut tawur untuk mendapat perhatian pemerintah.
    .
    .
    @femi:ah itu saya cuma berandai-andai….makasih komennya

  10. silentknight20
    25 Oktober 2008 pada 11:55 am | #10

    kayaknya saya sih menangkap adanya gaya bahasa sindiran…dalam tulisan itu untuk pemerintah dan masyarakat yg kurang memandang guru..maupun mental siswa yg lebih suka kalo ga ada guru…

    “Tapi harus diingat, guru juga manusia. Banyak cara untuk menarik perhatian kepada profesi guru, selain perkelahian.”

    that’s the point.
    .
    .
    @silent: wah pasti ini ahli bahasa, sayang saya gak bisa kunjung balik di blognya. tapi intinya guru itu takut berkelahi, karena kawatir bajunya yang rapi setrikaan jadi kusut….. makasih komentarnya…..

  11. 24 Oktober 2008 pada 12:59 pm | #11

    ya sekali-kali lah guru juga kan butuh refreshing dan penyaluran bakat
    mungkin aja para guru itu yang bakatnya serta hobinya di beladiri tidak dapat disalurkan di sekolahan
    kan gak ada eskul karate buat guru gitu

    mari kita buat eskul buat para guru

    terima kasih atas commentnya yang singkat di blog saya

  12. 24 Oktober 2008 pada 10:05 am | #12

    Perkelahian antar guru? Macam tawuran gitu maksudnya? Memalukan bila sampai terjadi!

    Tapi harus diingat, guru juga manusia. Banyak cara untuk menarik perhatian kepada profesi guru, selain perkelahian.

  13. 23 Oktober 2008 pada 4:36 pm | #13

    ASYIK JUGA JUDULNYA, MEMUKAU ISINYA BAGI GURU YANG BELUM PERNAH BERKELAHI; TETAPI TENTU LAIN PENILAIANNYA BAGI GURU YANG SUDAH PERNAH BERKELAHI BAIK DENGAN SESAMA GURU MAUPUN DENGAN YANG BUKAN GURU.
    TETAPI MOGA GURU JANGAN SAMPAI TAWURAN APA LAGI BERKELAHI-KEROYOKAN, SEBAB NANTI AKIBATNYA PASTI AKAN KELUAR UNDANG-UNDANG ANTI TAWURAN.
    .
    .
    @Bernard: Undang-undang anti tawuran…? wah saya lalu ingat pernah beli arloji anti magnetik dan anti air, yang artinya arloji saya tidak terpengaruh dengan adanya medan magnet dan tidak akan rusak jika terendam air. Kalau hal ini dianalogikan dengan undang-undang anti tawuran gimana ya…. guru tawuran gak papa?…he..he…

  14. 23 Oktober 2008 pada 2:01 pm | #14

    Ah jangan guru berkelahi lagi… Saya katakan lagi karena saya sering mendengar guru juga berkelahi.Jangan sangka berkelahi cuma harus saling lempar batu. Para guru ternyata melakukan kegiatan sungguh saling mematikan. Pedang mereka adalah kata-kata. Ternyata lebih keras dari batu dan besi dan lebih tajam dari pedang manapun.
    Ini yang membuat para murid tawuran… Ingat kata peri tutur kuna : guru kencing di celana sambil berdiri anak murid akan mengencingi gurunya sambil bersorak.
    .
    .
    @atakeo: wua kak…kak…(ketawa)…. aduh.. tadi dah semangat mau kelahi. malah gak jadi karena tertawa terbahak-bahak. atau kita usulkan saja guru harus bisa melawak biar tidak ada perkelahian. tapi bener gak sih bahwa guru-guru itu takut berkelahi, bukanya mengerti bahwa berkelahi itu tidak bermanfaat?

  15. 23 Oktober 2008 pada 11:09 am | #15

    perkelahian simbol rendahnya pendidikan pada diri seseorang. Gak ada hubungannya dengan akademis, banyak orang dengan gelar ABC tapi justru tidak berpendidikan :(

    @Yella: Iya, bu saya juga sependapat. Tapi kenapa yo.. kalau kelahi itu identik laki-laki?

  16. 23 Oktober 2008 pada 6:25 am | #16

    Wah.. pertama baca judulnya kaget saya Pak, jangan sampai ah, ada perkelahian antar Guru. Selama ini yang menjadi kebanggaan sebagai anak seorang guru dari saya, karena mereka adalah orang berpendidikan yang mampu memberi contoh untuk orang disekitarnya. Walaupun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka kembang kempis setidaknya mampu mendidik semua anaknya sampai berhasil menjadi orang yang berbudi dan berilmu. thanks
    .
    @yulism :sepertinya perkelahian antarguru perlu juga dicoba, untuk menarik perhatian semua pihak agar melihat dunia pendidikan, agar lengkap segala atribut tentang kebobrokan di negeri ini…

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.