Beranda > Pendidikan > Guru Tidak Profesional

Guru Tidak Profesional

Tadi pagi saya mendapat telepon dari teman sejawat, “Pak budi ngajar kelas berapa?” saya jawab ngajar semua kelas, yaitu kelas X, kelas XI dan Kelas XII. Wah ini guru profesional, katanya. lalu mata pelajaran apa yang diajar?
kelas X ngajar Kimia,
kelas XI ngajar Bahasa Indonesia,
kelas XII ngajar Komputer, jawabku santai. lho INI BERARTI ANDA TIDAK PROFESIONAL, gini pak, kalau bapak ngajar mata pelajaran lain gak bakalan diakui jumlah jamnya, karena guru profesional harus mengajar sesuai latar belakang ijazahnya. Memangnya apa latar belakang ijazah bapak? berapa jam tatap muka satu minggu?
saya : ijazah saya kimia, saya ngajar 20 jam tatap muka satu minggu.
teman : wah kurang pak, nanti bapak bisa gak dapat tunjangan profesional. kalau tidak 24 jam
saya : tapi saya hari selasa sore ekstra pramuka dan Rabu sore ekstra mading dan karya tulis. ditambah wali kelas dan penanggung jawab lab komputer.
teman : itu boleh tapi yang namanya 24 jam itu ya jam tatap muka dikelas 24 jam dan harus sesuai latar belakang ijazahnya.
saya : apa sebaiknya anak-anak ekstra itu dicarikan tenaga lain saja, kalau ternyata tidak diakui sebagai kegiatan tatap muka? Eh maaf ya, ni mau masukan. kita sambung kali lain, wassalam.

Kumatikan hape, sambil mempersiapkan perlengkapan ke kelas saya menggerutu…
lha kalau saya gak mau ngajar komputer, siapa yang ngajar anak-anak?
lha kalau saya gak mau ngajar bahasa, siapa yang mau? semua pada gak mau.
lha kalau kimia saya minta semua, gimana guru yang lain? ngajar ke sekolah lain? wah 48 km jaraknya
yang benar mana? aku ini profesional apa tidak?

About these ads
  1. 16 Mei 2011 pukul 2:22 am

    Hrmm that was weird, my comment got eaten. Anyway I wanted to say that it’s nice to understand that someone else also mentioned this as I had trouble choosing the exact same info elsewhere. This was the initial place that explained the solution. Thanks.

  2. 29 April 2009 pukul 2:52 pm

    Bapak, saya jg ngajar paket C di desa Cikarawang sekitar kampus IPB Dramaga. Saya lulusan dari Sosek Perikanan (Agribisnis sekarang). tapi ngajarnya Biologi.

    Sekarang lg mikir2 lagi udah hampir seminggu setengah ga ngajar. Gimna ya, jd bingung dengan arti profesionalitas. Saya adalah ahli ekonomi, tapi kok jd harus nyiapin pelajar biologi per minggunya.

    Sykur setelah membaca beberapa komentar sahabat dari pak budi, saya jd seneng lg. Mohon doanya semoga bisa mengaktifkan kembali Blog saya di aseprudinisetiawan.multiply.com untuk berbagi ilmu.

    salam cinta perjuangan
    guru…

  3. Abdulhaq
    4 April 2009 pukul 8:08 pm

    Kang budi guru sakti,ha…Tp apa mau dikata?Klo memang jd guru adalah panggilan hati itu semua akan dijalani dg ihlas tp klo jd guru krn panggilan gaji n banksaku,tunjangan segede apapun akan slalu minus. N kbr terbaru sertifikasi 2009 dah keluar al: masa kerja min 4thn,blh tdk sesuai ijasah,& bg tmn2 tuk memenuhi 24 jam slhkan bc perhtngan ekuvaliensi jam mengajar 24 jam

  4. 1 April 2009 pukul 9:55 pm

    Yang penting enjoy, mengajar sambil ibadah. Kalau pedagang tiap hari menghitung untungnya, kalau guru gak usah ngitung pahalanya, yang penting ihlas.

  5. 1 April 2009 pukul 9:50 pm

    walah tunjangan kita terancam dihentikan dan bahkan harus mengembalikan
    gara2 gak dukung SBY
    .
    .
    @wawa: wah jual sekolah aja yuk untuk mbayar utang

  6. 1 April 2009 pukul 8:07 am

    guru jaman skarang Profesionak ????? liat diri sendiri ajah dolo yah….
    tapi kok saya lihat ada guru (relatif banyak jumlahnya) yang udah disertifikasi dan otomatis menerima tambahan 2 juta perbulan, malah kok dengan entengnya meninggalkan kelas di saat seharusnya dia mengajar. jadi tujuan sertifikasi apa dong? katanya ingin diakui profesional tapi kok malah ga profesional yah?
    saya lebih salut sama orang2 yang mau2nya mengajar materi yang bukan bidangnya. saya sih belum berani dan ga yakin akan berani….
    .
    .
    @mrPall: keadaan yang membuat berani mengajar selain latar belakang.. seribu guru berteriak mutu, seribu guru berteriak kesejahteraan, seribu guru diaaaam saja..ikhlas menerima keadaan. tapi tidak sedikit juga yang malas…………………………..

  7. sri kustari
    30 Maret 2009 pukul 7:28 pm

    Mas Budi waktu aku masih neng alas mBanjarmasin ijazahku kimia tapi ngajare kimia, matematika, biologi, n ketrampilan. Yang penting ngajar dengan hati ikhlas minterke anake wong, jangan mikiri profesional apa tidak. Pertanyaannya adalah apakah yang menuntut kita harus profesional itu sudah profesional apa belum…
    .
    .
    @sri: alhamdulillah bu, masih ada yang suport saya, ibu sendiri pernah di kalimantan, tentunya paham betul kesulitan di daerah. apalagi saya lebih pelosok. sukses untuk ibu. salam untuk teman-teman dan keluarga

  8. 29 Maret 2009 pukul 12:53 pm

    Walau ayah ibu alm guru, tapi saya tak memahami aturan sekarang.
    Agak rumit ya?

  9. mulyadicahdekan
    29 Maret 2009 pukul 12:11 pm

    pak ini blog baru saya berkat ilmu dari bapak lo … trim pokoknya

  10. 28 Maret 2009 pukul 1:40 pm

    saya jadi penasaran ingin tau definisi kata ‘profesional’ di kamus besar bahasa indonesia.. nanti kalau pulang ke indo akan saya cari..
    .
    .
    @putri: mang lagi dimana sif put? tugas belajar ?

  11. 27 Maret 2009 pukul 12:08 pm

    salam kenal… mudah mudahan klw saya jadi guru nbisa profesional… he amien
    .
    .
    @said: Insya Allah, pasti bisa. makasih telah silahturahmi

  12. suhadinet
    27 Maret 2009 pukul 9:48 am

    Profesional dalam konteks sertifikasi terlalu meremehkan guru-guru yang harus mengajarkan beberapa mata pelajaran lain yang tak bersesuaian dengan latar belakang pendidikan formalnya. Harus diingat bahwa belajar tak hanya dilakukan guru melalui pendidikan formal, belajar IT, belajar menulis, dll dapat dilakukan sembari mengajar. Kalau sungguh-sungguh, hasilnya juga oke.

    Oh ya, thanks for everything, hari ini genap setahun saya ngeblog.

  13. 26 Maret 2009 pukul 2:50 pm

    wakakaka … apa yang dialami pak budi itu terjadi di mana2, pak ini sungguh ironis, kepana banyak yang meragukan tingkat profesionalitas seorang guru hanya karena mengajar mapel yang bukan bidangnya. kalau semua guru diminta utk mengajar sesuai bidang keahliannya mbok iya disediakan tenaga pengajar yang cukup gitu loh. mending pak budi masih mau ngajar TIK dan bahasa. kalau ndak, duh bagaimana nasib anak2 kita. ndak usah dihiraukan itu, pak. pak budi tetep guru profesional dan berhak utk menikmati tunjangan profesional itu kok.
    .
    .
    @sawali: kalao gak utange terlanjur buanyak eh pak…hahahahah

  14. 26 Maret 2009 pukul 1:51 pm

    Wah pak budi ganti domain ya.. meski redirecting tapi kayaknya ok juga nih..! Menurut saya profesional atau tidaknya guru tergantung dedikasi, keikhlasan, komitmen kerja dan kualitas hasil, makanya sudut pandang yang dipakai bisa berbeda-beda. Biarkan orang lain yang menilai, kita ndak usah berdebat… yang penting bekerja maksimal trus mendidik anak-anak kita agar kelak setelah mereka dewasa tidak menghabiskan waktu berdebat mengenai hal yang tidak perlu. Saatnya berbuat….betul bukan? Saya sekarang ganti domain dan hosting sendiri pak budi, alamat blog baru saya : http://www.muttaqien.co.cc hosting gratisan dari 000webhost.com. Yang elmuttaqie.wordpress.com sudah lama terbengkalai.. lagi malas aja. Sekarang malah lebih sering wara wiri di facebook. Met hari libur pak…

  15. 23 Maret 2009 pukul 9:32 pm

    Mas Bud, guru adalah pendidik, dan pendidik haruslah menguasai ilmunya. Tdak maslah jika seseorang dapat mengetahui beberapa bidang keilmuan, asalkan dapat secara profesional dan dapat dipertanggngjawabkan hasil mengajarnya.
    Eh, ada lagi, jikalau mas bud ngga mau ngajar komputernya, saya mau kok gantiinnya, hitung-hitung nambah penghasilan. mumpung lagi krismon, hehehehe :)
    .
    .
    @agung: honornya kecil lho, tapi aku suka dan anak-anak suka…cuma aturan maen aja yang gak suka

  16. 23 Maret 2009 pukul 8:33 pm

    wuih, kalau saya yang nelfon bapak, pasti malah memuji-muji kepintaran bapak…

    *bersyukur saja Pak*

  17. 23 Maret 2009 pukul 1:26 pm

    guru..
    beginilah nasib guru…
    tidak ada kegiatan.. ngeblog
    .
    .
    @subpok: bukan tidak ada kegiatan, lantas ngeblog. namun ngeblog adalah kegiatan wajib bagi guru, jika ingin lebih maju

  18. 23 Maret 2009 pukul 10:05 am

    Pak Budi ndak profesional. Apa jadinya bila dokter umum nyabut gigi meskipun bisa. Ahli mesin ngelas bodi, meskipun ngelas kelihatannya gampang. Lulusan kimia ngajar bahasa inggris meskipun bisa baca postingan in english di internet. Yg penting sekarang sampean dapet tambahan 2jt/bln gitu aja kok repot. Timbang saya, ngajar sesuai disiplin ilmu, 24jam tatap muka/minggu, 2 jam ekstra kurikuler basket, pengelola lab bahasa tapi ndak ada yang ngasih saya embel2 profesional dan saya terima 650rb/bulan..hehe melas. Tapi saya bangga dipanggil pak guru. Sama bangganya dengan istri saya yg di panggil bu dokter.
    .
    .
    @Akhta: memang ada profesional secara teori dan latar belakang ijazah, namun juga pengakuan profesional scr hasil dan performance. ada juga karena keadaan lapangan yang menuntut guru untuk menjadi serba bisa. ada kisah seorang dokter di pedalaman irian jaya, dia harus melukan operasi dengan alat gergaji dan pahat, hasilnya memang dirasakan masyarakat sekitar. halah wis-wis mbuh….

  19. 23 Maret 2009 pukul 7:59 am

    Susah bener sih, cuman buat tunjangan aja kudu ngajar 24 jam seminggu dan ngajarnya mesti spesialistik pula. Bapak jangan kecil hati, Pak. Yang penting murid-murid merasakan manfaat langsung dari Bapak. Tunjangan dari akhirat lebih prospektif ketimbang tunjangan semu dari dinas..
    .
    .
    @vicky: Alhamdulillah…ini the real motivation…yang penting ikhlas dan manfaatnya dirasakan oleh anak didik…gitu ya

  20. Willy Ediyanto
    22 Maret 2009 pukul 9:05 am

    Walah, saya malah belum ikut sertifikasi. Kawan-kawan yangmasih junior gitu sudah. Depag, Depag, memang terdepak. Padahal saya sudah banyak nulis di koran, di blog, dan bahkan sudah diterbitkan jadi buku. Judulnya: “Guru Menggugat Mutu Pendidikan” karya Willy Ediyanto. Isinya, ya gugatan terhadap mutu pendidikan, termasuk sertifikasi guru. Yang rajin ke toko buku, cari dan beli ya bukunya (wah promosi, nih). Penerbitnya Cipta Prima Nusantara Semarang. Terbit akhir 2008.

  21. 21 Maret 2009 pukul 1:48 pm

    yang tau profesional itu
    dipadangan dari para murid
    bukan dari sesama guru..’


    @annosmile: wah bener juga ya…murid kita masukkan dalam tim asesor

  22. 20 Maret 2009 pukul 5:29 pm

    pak guru sungguh besar jasamu

  23. 20 Maret 2009 pukul 5:28 pm

    profesional tau tidak yang penting niatnya pak guru… demi nusa dan bangsa
    jangan lupa keluarga

  24. 19 Maret 2009 pukul 4:19 am

    wekekek… singkirkan dulu angan2 guru profesional di negara kita, jika pemerintah tidak menyiapkan infrastruktur, personel, dan sistemnya. Pemerintah tampaknya masih kedodoran menyiapkan hal tersebut. Akhirnya kembali pada kreativitas sekolah dan para guru di lapangan.
    .
    .
    @Hejis: setuju pak, harusnya jenengan mendiknasnya. supaya aturan tidak kaku.

  25. wyd
    19 Maret 2009 pukul 2:02 am

    kadang saya dikomporin teman buat mengupayakan agar bisa disertifikasi karena embel2 tunjangan dua juta perbulan itu. tapi kok saya lihat ada guru (relatif banyak jumlahnya) yang udah disertifikasi dan otomatis menerima tambahan 2 juta perbulan, malah kok dengan entengnya meninggalkan kelas di saat seharusnya dia mengajar. jadi tujuan sertifikasi apa dong? katanya ingin diakui profesional tapi kok malah ga profesional yah?

    saya lebih salut sama orang2 yang mau2nya mengajar materi yang bukan bidangnya. saya sih belum berani dan ga yakin akan berani….
    .
    .
    @Wyd: saya juga heran. kok mau-maunya guru itu mengampu mata pelajaran yang tidak sesuai dengan ijazahnya

  26. 18 Maret 2009 pukul 8:33 pm

    Profesional atau nggak profesional, guru emang hanya ada 3.
    1. Jadi Guru tetap
    2. Jadi guru tidak tetap
    3. Tetap jadi guru
    Saya sendiri yg nomer 3…
    .
    .
    @Mars: lho pak kalau ditawari jadi anggota dewan gimana? masak tetap nomor 3. misalnya dewan juri maksud GTT itu guru tidak terkenal

  27. hariman
    18 Maret 2009 pukul 1:13 pm

    Wah, koq hampir sama dengan sy ya..sya sarjana agama, ngajar bhs inggris dan bhs arab. terus ngurusin anak2 buat mading, dll. Sy cuman berfikir kesarjanaan kita janganlah dijadikan batas untuk mengajar. Kita harus mendobrak batas… selamat bekerja
    .
    .
    @hariman : ya alhamdulillah, dapat teman yang mendobrak batas.
    lha wong tahun lalu pernah aanak-anak protes karena saya gak ngajar bahasa di kelas mereka. menurutnya saya variatif dan hasilnya nyata, bukan teori thok thil.

  28. 18 Maret 2009 pukul 12:54 pm

    yang sudah sertifikasi ternyata juga belum mempunyai kualitas yang lebih baik dari mereka yang cuma guru swasta
    .
    .
    @Master: betul, dan sangat banyak contohnya

  29. 18 Maret 2009 pukul 12:52 pm

    Kalau menurut teman sampeyan tadi bapak tidak profesional (itu dari kacamata untuk mendapatkan sertifikasi dan tetek bengek yang hanya cuma mencari kata profesional dengan jumlah jam 24 dan sembarang kalire, untuk mendapatkan tunjangan)…..
    tapi menurut saya jenengan itu profesional (dari sudut pandang lain) :-).
    .
    .
    @ndru: sayang ya cuma dari sudut. bahkan kalau menurut saya guru itu beban kerjanya bukan cuma 24 jam per minggu, tapi 24 jam per hari, artinya setiap saat menerima pengaduan/konsultasi….lha memang PLN?

  30. 18 Maret 2009 pukul 12:46 pm

    profesional p’…
    cuman butuh pengorbanan aja…
    namanya juga guru
    digugu lan ditiru
    .
    .
    @Galang : Lang…guru itu yen malem minggu ra turu. ngeblog sampe elek

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.737 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: