Beranda > barito timur > Pawai Taptu dan AKRS Barito Timur

Pawai Taptu dan AKRS Barito Timur

Pawai Taptu. Sudah 4 tahun ini pawai taptu tak di adakan lagi di kecamatan Dusun Tengah Ampah. Peniadaan ini semata hanya untuk mengantisipasi risiko kebakaran dan semakin bertambahnya jumlah asap yang mengotori udara kota Ampah. PAwai taptu yang diidentikkan dengan pawai obor ini dulu dilaksanakan setiap tanggal 16 Agustus  sore – malam hari.

Sebenarnya dari mana sih istilah taptu itu sendiri? Rasanya istilah itu masih aneh. woow ternyata itu istilah dari bahasa Belanda.

Taptu kita serap dari bahasa Belanda taptoe (kependekan dari doe de tap toe) yang bermakna ’menutup keran (tap)’. Tradisi ini bermula sekitar abad ke 17, dimana penabuh genderang militer tepat pada pukul 9.30 malam mulai berkeliling ke jalan-jalan memberikan peringatan kepada pemilik bar untuk segera menutup keran minuman bir dan tidak melayani lagi serdadu yang sedang bersenang-senang di situ. Ini disebabkan karena pada pukul 10 malam serdadu-serdadu ini sudah harus kembali ke baraknya dan melaksanakan apel malam. Kebiasaan meronda dengan genderang ini lama kelamaan menjadi tradisi di saat memperingati hari-hari besar di negara-negara Eropa. Yang unik bahasa Inggris pun juga menyerap kata Belanda taptoe ini menjadi tattoo. Jadi kalau kita mendengar kata tattoo ini maknanya memang ganda, bisa merujuk ke ’lukisan pada kulit’ atau dalam bahasa kita disebut ’rajah’, dan yang keduanya merujuk ke ’pawai genderang’ tadi. (sumber dari sini)

AKRS. Apel Kehormatan dan Renungan Suci. Apel ini dilaksanakan tepat menjelang pukul 00.00 wib tanggal 17 Agustus bertempat di makam pahlawan. Inti dari kegiatan ini adalah menghormati atas jasa-jasa pengorbanan para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan.

Biasanya saya selalu membawa anggota pramuka untuk mengikuti AKRS ini. Beberapa diantaranya dipercaya menjadi petugas, pembawa obor, pembawa karangan bunga dan penjaga samping makam.

Tahun ini AKRS bertepatan dengan pelaksanaan puasa. Pada awalnya saya merasa bisa diatasi karena toh pelaksanaan AKRS itu menjelang tengah malam. Tiba-tiba ada rasa gak sreg saat mendapat telepon untuk mempersiapkan dua anggota pramuka agar mengikuti gladi bersih pukul 19.00 wib. Telepon pertama saya terima dari anggota kepolisian, karena jawaban saya kurang memuaskan saya ditelepon kembali dari Danramil-07/Amp. Isinya masih sama, saya diminta menyiapkan anggota pukul 19.00 wib.

“Lho pak, biasanya gladi bersih dilaksanakan pukul 22.00 wib, lagian ini kan bulan puasa, kalaupun saya pilih yang nonmuslim pada jam-jam segitu khan lagi pelaksanaan sholat tarawih?” jawabku sambil dalam hati …apa kata dunia….?

“Ini perintah Kapolres, beliau nanti mau jadi inspektur upacaranya”, tegas Pak Danramil.

“Saya sudah menugaskan untuk kumpul pada pukul 21.00 wib pak, gimana ini?” kembali saya menunjukkan penolakan halus.

“Wah, ini permintaan pak Kapolres,..beliau khan baru di Barito Timur”

Wah bingung saya,… laksanakan perintah Kapolres atau laksanakan sunah Rasul?. Seandainya saya ditelepon langsung oleh kapolres, saya akan memberitahukan bahwa masyarakat Ampah sangat menghormati Ramadhan dan perbedaan agama.ren

Pak, Kapolres, maafkan saya,…saya dah pilih dua petugas, tapi kalau dia gak mau datang ya gak tahu.

update 16 AGustus pukul 20.00

sepulang sholat tarawih, saya lihat HP ada panggilan tak terjawab dan ada SMS dari Danramil-1012-07/Aph yang memberitahukan bahwa gladi bersih dilaksanakan pukul 21.00 wib. ALhamdulillah… seperti yang saya bayangkan bahwa Kapolres Barito Timur adalah sosok yang sangat menghargai perbedaan keyakinan

Kepada Rahmat Hidayat Dan Deni saya minta maaf telah memerintahkan untuk siap gladi pukul 19.00wib

About these ads
  1. 16 Mei 2011 pukul 1:59 am

    I was extremely encouraged to discover this website. I needed to thank you for this special read. I certainly savored each and every little bit of it and I have you bookmarked to check out new items you post.

  2. 4 September 2010 pukul 12:14 pm

    permisi pak.. numpang pasang link ya :)
    http://ulah55.wordpress.com/2010/09/04/malaysia-dan-indonesia/

  3. rendy
    21 Agustus 2010 pukul 1:00 am

    wah…. dah lama ga komen blog bapak…………

    ‘arak obor’
    wah dngar kata it tringat masa2 skolh dulu….
    knpa sich tradisi kaya gt msti dhentikan, kalo cuma karna polusi dan takut kebakran ga cukup kuat untuk ga ngelaksakan kegiatan itu…
    selama kegiatan it terarah dn terkendali ga akan terjadi kebakaran. kalo masalh polusi, kan kegiatan ini skali dalam setahun jd kurang begitu besengaruh dbanding polusi TURUK BATUBARA….

  4. ilmy putai
    20 Agustus 2010 pukul 1:50 pm

    gak pernah aku lihat kayak gini.mau lihat jadi nya.!

  5. 20 Agustus 2010 pukul 7:57 am

    Jadi banyak dapat pejaran pak … ternyata blog sangat penting sekali … dipandang dari segala aspek …
    Kapan Kopdar lagi pak ?

  6. akhta
    19 Agustus 2010 pukul 9:43 am

    Begitulah sulitnya kordinasi, apalagi yang lintas sektoral seperti itu. Pada akhirnya semua berjalan lancar, dan semoga menjadikan pelajaran untuk kedepan lebih baik lagi.

  7. 18 Agustus 2010 pukul 3:31 am

    saya sangat lama tidak pernah mengikuti renungan suci sejak masih sekolah dasar.

  8. 17 Agustus 2010 pukul 8:54 pm

    Taptu yang diidentikkan dengan pawai obor, mengingatkan masa kecil saya ketika masih menggembalakan sapi milik bapak. Pada menjelang musim panen kacang/jagung, anak-anak gembala selalu mengadakan acara “lampor”. Lampor ini juga pawai yang menggunakan obor dari pelepah kelapa yang kering, berjalan tidak melewati jalan-jalan desa, tapi lebih sering melewati jalan-jalan di tengah perkebunan dan bahkan pematang-pematang perkebunan.

    Benar-benar saya rindu buadaya lampor itu ada lagi.Sungguh alami dan mengakrabkan.
    Salam kekerabatan.

  9. 17 Agustus 2010 pukul 1:00 am

    Met bulan ramadhan pak.. Tadi acaranya benar2 khitmat menurut saya… Saya sadar tanpa pahlawan mungkin indonesia tidak akan seperti sekarang

  10. 16 Agustus 2010 pukul 4:08 pm

    semoga gak demikian

  11. 16 Agustus 2010 pukul 2:10 pm

    Met Puasa Ramadhan…
    Wah kacau juga tu kapolres na. Pasti kapolres na ga tau klo jam segitu saat na Tarawih, ato mungkin juga petugas na mo diajak tarawih bareng ma kapolres…
    Hehehe….

    • 16 Agustus 2010 pukul 8:09 pm

      wah ternyata kapolresnya sangat merespon tulisan saya ini, karena memang demikian sebaiknya

  1. 21 Agustus 2010 pukul 12:23 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.709 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: