Arsip

Posts Tagged ‘kompetensi sosial guru’

PENCEMARAN NAMA BAIK ≠ PERBAIKAN NAMA CEMAR?

23 November 2009 14 komentar

Siapa yang namanya baik lantas tercemar?

Siapa yang namanya tercemar lantas baik?

Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 (pasal 28 :3) Guru  sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini harus memiliki kompetensi yang meliputi: Kompetensi pedagogik; Kompetensi kepribadian; Kompetensi profesional; dan Kompetensi sosial. Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Sekarang kita lihat jejak rekam Pak Sastro guru pada SMA Negeri 1 Dusun Tengah kaitannya dengan tuntutan kompetensi sosial di atas. Namun sebelumnya saya informasiken bahwa dia telah dinyataken sebagai guru proporsional profesional tahun 2007 oleh Rektor Universitas Palangkaraya. Pada bulan Juni tahun 2009 dinyatakan dengan terpaksa sebagai Juara I Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Barito Timur. Pada tanggal 19 November 2009 dinyatakan lulus seleksi proposal karya inovasi guru untuk mengikuti babak 15 besar di Jakarta yang diadakan oleh ITSF.

Dalam komunikasinya dengan siswa, Pak Sastro sepertinya tidak perlu diragukan lagi. Kedekatannya dengan siswa bukan hanya disebabkan pada mata pelajaran yang diampunya saja (Kimia, Bahasa Indonesia, TIK). Namun pada sore hari Pak Sastro juga mengadakan kegiatan di sekolah untuk membimbing siswa-siwanya. Hari Selasa sore membina anak-anak pramuka. Hari Rabu sore membina kelompok Mading MWS untuk latihan menulis dan kegiatan jurnalistik lainnya. Hari Kamis memberikan pemantapan Kimia bagi kelas XII IPA untuk menghadapi UN. Hari Sabtu dan/atau Minggu membina tim olimpiade sains bidang komputer.

Dalam komunikasinya dengan sesama pendidik, Pak Sastro pernah menjadi fasislitator penyusunan KTSP Gugus VIII SD Kecamatan Dusun Tengah Kabupaten Barito Timur. Fasislitator pada Workshop pembuatan Media Pembelajran berbasis ICT pada SMP Negeri 1 Dusun Tengah. Fasilitator MGMP TIK Kabupaten Barito Timur. Sekretaris Forum Ilmiah Guru Kabupaten Barito Timur.

Adapun komouikasi sosial dengan masyarakat Pak Sastro juga aktif di bidang keagamaan dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Pernah menjadi sekretaris Panwascam pda Pilkada Bartim. Pendiri dan sekaligus sebagai anggota dewan pakar pada Perkumpulan Warga Transmigran Laras Asri Muti Tama Barito Timur (Pawartalamat). Anggota balitbang pada pengurus Gamelan Barito Timur. Memandu pengoperasian komputer pada Polsek Ampah, Koramil 1012-07/Ampah, Puskesmas Ampah dan masih ada beberapa kegiatan lain yang bersifat insidentil.

Hal yang aneh dirasakan oleh Pak Sastro adalah ketika melihat nilai Kompetensi Sosial yang diberikan oleh dewan juri pada penilaian guru berprestasi tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada Juni 2009. Dia sama sekali tidak menyangka kalau nilai kompetensi sosial yang diberikan untuknya adalah 62,33. Seandainya saja dia mendapat nilai 70,00 maka dia akan menjadi juara I guru berprestasi tingkat Provinsi karena selisih dengan juara teripilh hanya enam poin.

Keluhan ini baru disampaikan kepada redaksi jauh setelah pelaksanaan lomba guru berprestasi dengan maksud supaya tidak terkesan protes. Biasanya orang yang kalah itu suka protes, tidak terima keputusan. Padahal dalam setiap kegiatan penjurian selalu ada kalimat keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Selain itu Pak Sastro khawatir kalau langsung posting masalah ini bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik sesuai UU ITE. Loh siapa yang tercemar…..?

Pak Sastro tidak merasa memiliki nama yang baik, sehingga walaupun mendapat nilai di bawah KKM (kriteria kompetensi minimal), dia tidak merasa namanya tercemar. Tanpa dicemaripun namanya sudah tercemar dimana-mana. Logikanya dia tidak lulus sebagai guru profesional karena nilai kompetensi sosialnya di bawah KKM  Kini Pak Sastro sedang berusaha membaiki namanya yang tercemar. Masuknya Pak Sastro sebagai 15 besar pada SCIENCE EDUCATION AWARD 2009 yang diadakan oleh Indonesia Toray Science Foundation (ITSF)adalah salah satu upayanya.

Semoga semuanya berjalan lancar……dan bisa menjadi juara. Selamat berjuang Pak Sastro.

Akhir-akhir ini, pengguna blog ekstra waspada. Pasalnya, jika materi blog dianggap menghina seseorang, pemilik blog tersebut bisa diancam pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Adalah Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menyebutkan ancaman itu. Secara lengkap, ayat itu berbunyi “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Selanjutnya, tercantum di Pasal 45 UU ITE, sanksi pidana bagi pelanggar pasal 27 ayat (3) yaitu penjara enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. (http://www.unindra.ac.id/?q=node/70 )

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.602 pengikut lainnya.