Arsip

Posts Tagged ‘muatan lokal’

BARTIM CANANGKAN PENGGUNAAN PRODUK PANGAN LOKAL

13 November 2009 10 komentar

BartimDengan otonomi daerah semua komponen dan potensi lokal dapat diberdayakan, termasuk produk pangan. Selama ini dalam setiap acara atau pertemuan-pertemuan resmi seperti rapat, pelatihan atau penataran selalu disertai acara makan-makan. Makanan yang disajikan selalu dikemas ala modern. Mulai tata cara penyajian, hiasan yang menyertai, peralatan yang digunakan hingga makanan yang disajikan. Hal ini tidak sejalan dengan imbuan Bupati Barito Timur, yang mengimbau agar setiap acara pertemuan resmi lebih mengutamakan produk lokal.

Berdasarkan Edaran Bupati Barito Timur nomor 521/1056/Ek.511/VII/2009 tanggal Juli 2009 yang teruskan dengan imbauan Camat Dusun Tengah Nomor 521/304/Ek tentang Penggunaan Produk Pangan dalam Pertemuan, Rapat dan Pelatihan, seharusnya seluruh komponen masyarakat menyikapinya dan mengaplikasikannya. Instansi-instansi pemerintah di wilayah Kabupaten Barito Timur harus memberi contoh dalam melaksanakan imbauan ini terutama dunia pendidikan.

Adapun isi imbuannya tersebut ada dua poin yaitu :

1. Dalam rangka mendorong upaya percepatan diversifkasi konsumsi berkelanjutan didukung pasar domestik yang semakin berkembang, perlu diimbau kepada seluruh instansi di Kabupaten Barito Timur dan seluruh komponen masyarakat seperti : PKK, Dharma Wanita dan kemolpok lainnya untuk memanfaatkan produk pangan lokal termasuk buah-buahan dan sayuran serta penataan rangakain bunga (tidak bunga plastik) dalam penyajian makanan berbahan lokal dan rangkaian bunga pada acara Rapat, Pertemuan dan Pelatihan.

2. Melalui upaya percepatan penganekaragaman komsumsi pangan lokal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan produktivitas Sumber Daya Manusia Indnesia Kabupaten Barito Timur berbasis kemandirian pangan serta memperkokoh perekonomian global yang semakin kompetitif .

Marilah kita lihat hubungan dan peran serta pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam hal muatan kurikulum. Di setiap sekolah mulai SD, SMP, SMA telah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP). Di dalam KTSP tersebut terdapat muatan lokal yang dikembangkan oleh sekolah masing-masing. Tiap sekolah memiliki kemampuan yang berbeda dalam pelaksanaan muatan lokal ini. Namun sebagian besar cenderung asal jadi, asal jalan. Tidak jelas landasan dan tujuan dari muatan lokal yang dilaksanakannya.

Salah satu alasan bagi sekolah dalam melaksanakan muatan lokal dengan seadanya adalah dikarenakan belum adanya peran serta pemerintah daerah. Hal demikian ini bisa dimaklumi, karena sekolah tidak memiliki anggaran yang cukup untuk melaksanakan muatan lokal yang sejalan dengan visi misi daerah dan kebijakan daerah. Barangkali pemerintah daerah juga belum tahu bahwa pmerintah pusat telah memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk berperean aktif di dunia pendidikan, khususnya melalui muatan lokal.

Berbeda halnya jika dalam penyusunan silabus muatan lokal, pemerintah daerah bersedia -menjembatani kesulitan yang dialami sekolah-sekolah. Bukan hanya itu, bahkan melalui muatan lokal yang dikembangkan oleh setiap sekolah bisa dijadikan sarana bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan visi misinya. Sehingga keunggulan daerah, potensi daerah, sumberdaya daerah dapat dikembangkan melalui muatan lokal.

Kinilah saatnya pemerintah daerah mengajak duduk bersama dengan dunia pendidikan mulai dari SD hingga SMA. Kesulitan yang dialami sekolah dapat diatasi. Program Pemerintah Daerah dapat terlaksana dengan optimal. Dana yang dikeluarkan untuk dunia pendidikan tepat sasaran. Peserta didik menjadi bangga dengan daerahnya. Kebanggaan akan daerahnya akan menjadi awal rasa nasionalisme, karena potensi daerah adalah potensi nasional.

Bagimana pelaksanaan muatan lokal di kabupaten Anda….?

DOWNLOAD MANUAL MSPD KOMPONEN KUALIFIKASI

KH-nisasi PLat Kendaraan Bermotor

2 November 2008 3 komentar

Di beberapa sudut kota di wilayah Kalimantan Tengah banyak terdapat imbauan untuk mengubah plat kendaraan bermotornya menjadi plat KH. Imbauan tersebut ditujukan kepada pemilik kendaraan bermotor yang masih menggunakan plat/nomor polisinya masih belum berplat KH. KH-nisasi…meningkatkan pendapatan asli daerah? Baca selengkapnya…

Muatan LOKAL

27 Mei 2008 14 komentar

Dari apa yang tersurat sudah jelas ada kandungan lokal dalam muatan pembelajaran, tetapi bukan melokalisasi apalagi mengarah ke disintegrasi. Rasa kecintaan terhadap lokal harus ditanamkan pada anak-anak usia sekolah hingga pejabat lokal agar secara nasional punya kekuatan yang mandiri dan berdikari.

Beberapa hari yang lalu ketika mengajar di kelas X, saya menanyakan kepada siswa, “Ada berapa kecamatan di Kabupaten Barito Timur?”. sebagian besar menjawab 5 ada beberapa yang 6 dan 8. Melihat tidak ada yang menjawab benar, saya memberitahu bahwa ada 10 kecamatan. Lantas saya meminta siswa untuk menyebutkan nama-nama kecamatan yang saya maksud. tidak seorang siswapun dapat menjawab dengan benar, sungguh memprihatinkan. Baca selengkapnya…

MULOK NEPHENTES

29 Juli 2007 2 komentar

Nepenthes kalau di Majalah Trubus disebut Kantung Semar, sedangkan masyarakat Ampah dan sekitarnya menyebutnya dengan nama Lanjung Warik. Bentuk kantungnya yang unik dan beraneka macam menyebabkan tanaman jenis ini banyak diburu orang untuk dibudidayakan menjadi tanaman hias, walaupun asalnya tumbuhan ini hanyalah tanaman hutan.
Mulai tahun pelajaran 2007/2008 setiap sekolah mulai dari SD/MI hingga SMA/SMK/MA wajib menggunakan kurikulum baru yang disebut dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Dari kepanjangan KTSP semua orang sudah bisa menebak bahwa masing-masing sekolah harus membuat suatu kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi sekolah dan lingkungannya dengan tetap mengacu pada kompetensi dasar dan standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Dalam KTSP terdapat Muatan Lokal, sebuah wadah bagi sekolah untuk berkreasi, berinovasi sesuai potensi daerah masing-masing. Dalam tulisan saya sebelumnya berjudul “Muatan Lokal berkualitas Internasional “ memaparkan betapa banyak sekolah yang melaksanakan Muatan Lokal secara asal-asalan. Tidak sedikit sekolah yang sekedar mengisi jam “mulok” dengan hanya sekedar daripada kosong, daripada tidak diajar tanpa memperhatikan tujuan apa yang ingin dicapai berkaitan dengan bekal apa yang akan diberikan kepada peserta didik sesuai potensi daerah.
Ketika membaca salah satu artikel di majalah Trubus yang berjudul “Berneo Kerajaan Nepenthes” saya tertarik untuk mencoba mencari tanaman tersebut di hutan belakang sekolah. Ternyata memang tidak berlebihan jika Borneo disebut sebagai Kerajaan Nepenthes, karena begitu masuk sedikit di dalam hutan saya telah menemukan aneka tumbuhan berkantung yang disebut sebagai Nepenthes. Sungguh ibarat mata yang selama ini buta lalu tiba-tiba dapat melihat keindahan dunia.
Kembali pada KTSP yang memberi wadah kepada sekolah untuk memberikan bekal kepada siswa sesuai potensi daerah, saya lalu bertanya dalam hati “ mengapa tidak ada sekolah yang memasukkan budidaya Nepenthes sebagai muatan lokal?” jika orang luar banyak yang berburu Nepenthes mengapa pemerintah daerah juga tidak melihat ini sebagai potensi daerah?
Seandainya saja Pemerintah Daerah Barito Timur menganggap Nepenthes sebagai salah satu primadona Barito Timur, kemudian menunjuk salah satu sekolah untuk menjadi pusat budidaya Nepenthes tentunya ibarat gayung bersambut, sekolah punya KTSP dengan Mulok yang mendapat payung hukum dari pemerintah daerah sedang pemerintah daerah punya kebanggaan daerah yang dapat diunggulkan. Selain itu sekolah juga dapat memberi bekal kepada siswanya tentang teknik budidaya Nepenthes dan juga tanaman khas Barito Timur lainnya. Dalam peribahasa “sekali merengkuh dayung dua, tiga pulau terlampaui”.
Salah satu kendala yang dihadapi sekolah adalah minimnya anggaran untuk hal-hal yang bersifat inovatif …. NTAR LAGI AH ngantuuk

MUATAN LOKAL KUALITAS INTERNASIONAL

3 Juni 2007 2 komentar

MUATAN LOKAL KUALITAS INTERNASIONAL mengingatkan saya pada pelawak Tukul yang menggunakan istilah “wajah desa rejeki kota”. Kalo saja pemda ikut memperhatikan pendidikan, memperhatikan guru, tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik. Coba bayangkan guru lebih tahu jumlah penduduk nasional, penduduk China, India, sampai pada mata pencaharian masing-masing negara, tapi tidak tahu berapa penduduk di kabupatennya.

tidak tahu apa potensi daerah. tidak tahu program-program daerah, keunggulan daerah. juga tidak tahu mau kemana daerah melangkah 10 tahun ke depan.

Kalo sudah tidak tahu, tidak kenal dengan daerahnya maka mau diapakan siswa juga tidak tahu. Padahal tahu bahwa kemampuan siswa dari segi akademik pas-pasan bahkan kurang memenuhi standar disebut siswa SMA. Namun ya karena juga tidak tahu mau diapakan siswa akhirnya dalam mengajar juga asal-asalan, apalagi dalam menilai makin asal-asalan.

Pada muatan lokal misalnya, materi yang diajarkan paling membuat asbak dari tanah, lalu dibuang. membuat anyaman dari pandan lalu dibuang. sama sekali tidak mempunyai nilai jual di daerah apalagi sampai taraf internasional.

Kalo guru dipinterkan, ditahukan, disugihkan, diajak ngomong dengan anggota dewan, yang kebanyakan anggota dewan lulus SMA paket C, sarjana paket D, master paket E, ya paling tidak akan menjadi tahu dan menguasai daerahnya. Kalo guru pinter-pinter paling gak kan akan mengisi muatan lokal yg bertaraf internasional. BUKAN ASAL_ASALAN

Lha kalo gurunya kualifikasinya pakai program penyetaraan, kelas jarak jauh, ngerjakan tugas mandiri minta tolong, dimana mutu guru atau bahkan seandainya guru itu ikut UAN saya jamin saya tidak lulus. Kalo mendiknas itu pamanku aku usul paling tidak dua tahun sekali guru itu ikut UAN secara bergantian. maksudku biar guru sejarah ya harus bisa bahasa inggris, matematika, bukan lalu bahasa inggris itu urusan guru bahasa inggris

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.736 pengikut lainnya.