Pendidikan sebagai isue nasional

sudah selayaknya bahwa pendidikan menjadi isue nasional. Undang-undang dasarpun telah mengamanatkan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan utama republik ini berdiri.
selama ini guru/pendidik dianggap sebagai biang penghabis dana(GAJI), karena berdasarkan jumlah PNS maka gurulah topscorenya. dengan kata lain guru itu jumlahnya banyak. Banyak orang yang setuju bahwa jumlah guru itu banyak, tetapi sedikit sekali atau bahkan tidak ada yang mengajak guru untuk ikut menentukan arah akan dibawa kemana daerah kita 10 tahun ke depan?
Berbicara 10-20 tahun ke depan tentunya subyek pembicaraan kita adalah anak-anak bangsa yg sedang menempuh pendidikan, karena 10 tahun kedepan merekalah pelaku-pelakunya. Jika kita sadar anak-anak didik adalah subyek masa datang maka kita juga mesti sadar bahwa yg membawa mereka menjadi bisa adalah guru. YA benar sekali bahwa gurulah ujung tombak dengan multifungsi dan tuntutan diantaranya motivator, fasilitator, tor-tor-tor yang yang lain. Yang saya lakukan hanya diktator (menjual diktat untuk beli motor).
Pada zaman KTSP inipun keleluasaan guru di AJANGI, salah satu wadah keleluasaan yang terdapat pada KTSP adalah muatan lokal. Namun apa yang kita lihat di lapangan ternyata sebagian besar sekolah hanya melaksanakan mulok dengan asal-asalan. Ada yang hanya diajari membuat asbak dari tanah liat, bahasa daerah yang tidak ada tata bahasanya, menganyam pandan, membuat bakul dan banyak yang lain yg intinya materi-materi tersebut tidak bernilai jual/bernilai jual rendah atau paling tidak materi tersebut dapat dipelajari sendiri di rumah sambil main-main. Materi tersebut tidak perlu disampaikan oleh seorang sarjana pendidikan.
Seandainya saja mulok ini dilirik oleh PEMDA sebagai ISUE yang berdampak luar biasa terhadap kemajuan daerah akan lain ceritanya. Misalnya bukan hanya membuat asbak dari tanah liat lalu dibuang begitu saja tetapi dengan sentuhan teknologi lebih menekankan bagaimana teknik pemilihan/pengolahan tanah, teknik membentuk, teknik pewarnaan hingga teknik pembakaran, tentunya nilai jualnya akan berbeda, keterampilan/pengetahuan yg diperoleh juga berbeda.
bersambung ajalah dah pukul 12 malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s