MUATAN LOKAL KUALITAS INTERNASIONAL

MUATAN LOKAL KUALITAS INTERNASIONAL mengingatkan saya pada pelawak Tukul yang menggunakan istilah “wajah desa rejeki kota”. Kalo saja pemda ikut memperhatikan pendidikan, memperhatikan guru, tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik. Coba bayangkan guru lebih tahu jumlah penduduk nasional, penduduk China, India, sampai pada mata pencaharian masing-masing negara, tapi tidak tahu berapa penduduk di kabupatennya.

tidak tahu apa potensi daerah. tidak tahu program-program daerah, keunggulan daerah. juga tidak tahu mau kemana daerah melangkah 10 tahun ke depan.

Kalo sudah tidak tahu, tidak kenal dengan daerahnya maka mau diapakan siswa juga tidak tahu. Padahal tahu bahwa kemampuan siswa dari segi akademik pas-pasan bahkan kurang memenuhi standar disebut siswa SMA. Namun ya karena juga tidak tahu mau diapakan siswa akhirnya dalam mengajar juga asal-asalan, apalagi dalam menilai makin asal-asalan.

Pada muatan lokal misalnya, materi yang diajarkan paling membuat asbak dari tanah, lalu dibuang. membuat anyaman dari pandan lalu dibuang. sama sekali tidak mempunyai nilai jual di daerah apalagi sampai taraf internasional.

Kalo guru dipinterkan, ditahukan, disugihkan, diajak ngomong dengan anggota dewan, yang kebanyakan anggota dewan lulus SMA paket C, sarjana paket D, master paket E, ya paling tidak akan menjadi tahu dan menguasai daerahnya. Kalo guru pinter-pinter paling gak kan akan mengisi muatan lokal yg bertaraf internasional. BUKAN ASAL_ASALAN

Lha kalo gurunya kualifikasinya pakai program penyetaraan, kelas jarak jauh, ngerjakan tugas mandiri minta tolong, dimana mutu guru atau bahkan seandainya guru itu ikut UAN saya jamin saya tidak lulus. Kalo mendiknas itu pamanku aku usul paling tidak dua tahun sekali guru itu ikut UAN secara bergantian. maksudku biar guru sejarah ya harus bisa bahasa inggris, matematika, bukan lalu bahasa inggris itu urusan guru bahasa inggris

2 thoughts on “MUATAN LOKAL KUALITAS INTERNASIONAL

  1. terlihat memang tulisan itu ngawur, tidak sistematik, sehingga sulit orang memahami apa pokok pikiran yang ingin disampaikan. dari sisi lain juga terlihat tulisan itu memojokkan guru sebagai sumber kesalahan. tidak semestinya seorang guru menjelek-jelekkan korpnya sendiri. Apalagi pada tulisan itu mengisyaratkan bahwa banyak guru yang bodo, miskin dan meragukan kesarjanaan guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s