MULOK NEPHENTES

Nepenthes kalau di Majalah Trubus disebut Kantung Semar, sedangkan masyarakat Ampah dan sekitarnya menyebutnya dengan nama Lanjung Warik. Bentuk kantungnya yang unik dan beraneka macam menyebabkan tanaman jenis ini banyak diburu orang untuk dibudidayakan menjadi tanaman hias, walaupun asalnya tumbuhan ini hanyalah tanaman hutan.
Mulai tahun pelajaran 2007/2008 setiap sekolah mulai dari SD/MI hingga SMA/SMK/MA wajib menggunakan kurikulum baru yang disebut dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Dari kepanjangan KTSP semua orang sudah bisa menebak bahwa masing-masing sekolah harus membuat suatu kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi sekolah dan lingkungannya dengan tetap mengacu pada kompetensi dasar dan standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Dalam KTSP terdapat Muatan Lokal, sebuah wadah bagi sekolah untuk berkreasi, berinovasi sesuai potensi daerah masing-masing. Dalam tulisan saya sebelumnya berjudul “Muatan Lokal berkualitas Internasional “ memaparkan betapa banyak sekolah yang melaksanakan Muatan Lokal secara asal-asalan. Tidak sedikit sekolah yang sekedar mengisi jam “mulok” dengan hanya sekedar daripada kosong, daripada tidak diajar tanpa memperhatikan tujuan apa yang ingin dicapai berkaitan dengan bekal apa yang akan diberikan kepada peserta didik sesuai potensi daerah.
Ketika membaca salah satu artikel di majalah Trubus yang berjudul “Berneo Kerajaan Nepenthes” saya tertarik untuk mencoba mencari tanaman tersebut di hutan belakang sekolah. Ternyata memang tidak berlebihan jika Borneo disebut sebagai Kerajaan Nepenthes, karena begitu masuk sedikit di dalam hutan saya telah menemukan aneka tumbuhan berkantung yang disebut sebagai Nepenthes. Sungguh ibarat mata yang selama ini buta lalu tiba-tiba dapat melihat keindahan dunia.
Kembali pada KTSP yang memberi wadah kepada sekolah untuk memberikan bekal kepada siswa sesuai potensi daerah, saya lalu bertanya dalam hati “ mengapa tidak ada sekolah yang memasukkan budidaya Nepenthes sebagai muatan lokal?” jika orang luar banyak yang berburu Nepenthes mengapa pemerintah daerah juga tidak melihat ini sebagai potensi daerah?
Seandainya saja Pemerintah Daerah Barito Timur menganggap Nepenthes sebagai salah satu primadona Barito Timur, kemudian menunjuk salah satu sekolah untuk menjadi pusat budidaya Nepenthes tentunya ibarat gayung bersambut, sekolah punya KTSP dengan Mulok yang mendapat payung hukum dari pemerintah daerah sedang pemerintah daerah punya kebanggaan daerah yang dapat diunggulkan. Selain itu sekolah juga dapat memberi bekal kepada siswanya tentang teknik budidaya Nepenthes dan juga tanaman khas Barito Timur lainnya. Dalam peribahasa “sekali merengkuh dayung dua, tiga pulau terlampaui”.
Salah satu kendala yang dihadapi sekolah adalah minimnya anggaran untuk hal-hal yang bersifat inovatif …. NTAR LAGI AH ngantuuk

2 thoughts on “MULOK NEPHENTES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s