GURU BERPRESTASI CUKUP SEKALI

setiap tahun selalu diadakan pemilihan guru berprestasi, mulai dari tingkat sekolah, kabupaten, provinsi hingga nasional. Namun di sekolahku nampaknya selalu dingin-dingin saja, mulai dari teman-teman guru sampai para petinggi sekolah. setiap ada momen selalu berdalih datangnya berita mendadak, akhirnya hanya dengan tunjuk sana-tunjuk sini terpilihlah sang guru berprestasi tingkat sekolah untuk berlomba di tingkat kabupaten.

satu hal yang perlu saya tanyakan adalah bahwa yang dipilih adalah guru yang belum pernah mengikuti lomba guru berpretasi. akhirnya terpilihlah salah satu guru. dari situ lalu saya bertanya lagi berarti yang pernah mengikuti lomba tak perlulah berprestasi, berinovasi, berkreasi dan si-si-si lain. toh seandainya berkreasi tak akan terpilih lagi mewakili sekolah. GURU BERPRESTASI CUKUP SEKALI itu barangkali kalimat yang tepat, daripada “tiap sekolah selalu mengadakan arisan guru beprestasi” kan tidak etis. ketika saya coba bertanya ke sekolah lain ternyata kasusnya sama

ditambah lagi proses penilaian yang dilakukan dinas kabupaten yang menurut saya kurang profesional. misalnya dalam hal menilai karya tulis, lha wong penilainya tidak pernah membuat karya tulis kok menilai karya tulis. bisa dipastikan sebuah perumpamaan JERUK MAKAN JERUK. akhirnya guru yang mengikuti lomba bertanya kepada yang pernah ikut tentang bagaimana cara penilaian sebuah karya tulis.. sebagain dari mereka mejawab bahwa cara menilai karya tulis adalah dengan mengukur ketebalan jilidannya. itulah barangkali yang menyebabkan sekolah-sekolah juga enggan mengirim utusan gurunya.

gurupun juga malas mempersiapkan sebaik-baiknya untuk bertanding. ajang ini lebih dianggap beban bagi guru, bukan sebagai apresiasi atas kreativitasnya. SELAMAT BERJUANG TEMAN-TEMAN GURU BERPRESTASI, aku dulu penah dikatakan berprestasi, makanya sekarang tak perlu lagi berprestasi. UNTUK APA…………..

19 thoughts on “GURU BERPRESTASI CUKUP SEKALI

  1. Kebetulan, saya tahun ini ditunjuk untuk mewakili sekolah untuk maju sebagai peserta lomba guru berprestasi. Saya sebenarnya gak pernah berminat sedikitpun ikut lomba itu. Bahkan ketika penunjukkan di awal tahun pelajaran saya sudah mengajukan keberatan. Tapi pihak pimpinan gak mau tahu, pokoknya harus ikut… Teman-temanku sebelumnya yang pernah ikut lomba guru berprestasi baik yang mendapat juara 1 maupun tidak, ternyata gak ada pengaruhnya apa-apa…alias bikin repot, pusing dan keluar biaya untuk foto copy itu dan ini yang jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu bahkan bisa juga ratusan ribu… Tapi setelah ajang lomba selesai, maka selesailah semuanya..tidak ada hadiah, atau apapun yang diterima. Jadi menurutku, tidak ada gunanya bagi yang bersangkutan..hanya bikin repot..

  2. ajang lomba guru berprestasi kalau menurut hemat saya ok ok saja. Tapi kalau boleh jujur,, mereka yg sudah pernah menyandang predikat guru berprestasi…saya liat kinerjanya tuh biasa-biasa saja, cuma pandai ngomong doang. Mungkin bahasa kerennya cuma pandai memberi contoh tapi tak pisa pula dijadikan contoh. Sejatinya memang ketika sang guru dikatakan berprestasi…secara nyata berhasil menjadikan murid2nya menjadi orang yang bisa membedakan mana pantas dan tak pantas, baik dan buruk. Yang saya maksudkan begini,,,ketika besok anak akan menghadapi cobaan ( baca: Ujian Nasional) apa yg mereka lakukan ? Mencari-cari cara yg tak terhormat untuk menghadapi ujian itu. dan anehnya lagi….konon ini mendapat legalitas…lalu apa yg terjadi. Murid yang diajari oleh guru yg berpredikat guru berprestasi sama saja dg yang tak berprestasi. Mengapa kita terkesan melakukan pembiaran terhadap “drama yg tak lucu ini?” Sungguh kita telah menciderai sumpah jabatan yg telah kita ucapkan di hadapan Allah. Katakan !bila kamu ingin benar2 saya anggap guru berprestasi….

    • saya setuju dengan komentar Anda, itu adalah bagian yang saya maksud guru berprestasi cuma sekali, setelah itu ya gak usah berprestasi. predikat prestasi dan profesional yang disandang guru mestinya harus terus menerus dikembangkan dan ditulaarkan untuk bisa menjadi teladan bagi teman sejawat dan bagi siswanya

  3. Guru berprestasi (tidak) cukup sekali.Karena prestasi bisa diperoleh dimana dan di kegiatan apa saja, tidak harus terikat dengan ruang dan waktu. OK lah jika berprestasi di tingkat Kabupaten, misal guru teladan, memang sebaiknya cukup satu kali. Tapi ia dapat saja memperoleh prestasi sebagai guru teladan di tingkat provinsi atau bahkan nasional. Tidak lantas berhenti di situ, ada ajang lain di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, mungkin dalam bentuk kegiatan lainnya (di luar ajang pemilihan guru teladan) yang mana prestasi/kemampuan diri bisa ditampilkan di sana…..

  4. Oh gitu ya, baru “ngeh” kalo yang namanya guru berprestasi itu cuma rekayasa orang-orang tertentu.

    Tapi pengalaman saya ikut lomba guru berprestasi tahun 2009 kemaren, sepertinya ga begitu juga ya, (ga begitu beda .. hahaha). Saya dari Kota Sukabumi wakil dari sekolah saya tingkat SMP.
    .
    .
    @Treima kasih kunjungannya,kunjungi juga http://www.budies.info

  5. Sepakat guru punya kepentingan,orang dinas juga punya kepentingan.Tidak mungkin semua keinginan kita sebagai guru dapat dipenuhi.Kita harus bisa memahami dan memaklumi beliau-beliau di dinas.Mengenai guru dulu berprestasi sekarang tidak,saya jadi bertanya-tanya,apa memang harus demikian.Menurut saya prestasi guru tertinggi bukanlah saat dia menyandang gelar sebagai guru berprestasi.PIALA BISA JADI BERHALA KALAU KITA TERLALU MENGAGUNGKAN.Yang terpenting kita bisa menanamkan moral dan membekali siswa untuk bisa eksis di kehidupannya kelak.

  6. Guru punya kepentingan, orang dinas juga punya kepentingan, mari kita bikin saling menguntungkan, jangan saling mengabaikan, jangan berbenturan, mari bicara secara dewasa dan profesional, selesaikan masalah dg damai dan cerdas, bukan dg marah dn putus asa
    .
    .
    @herdian:betul pak…kita harus berangkat dengan lengkap…
    kepala dingin
    perut kenyang
    kaki bersih
    tangan ringan

  7. Pak katanya guru berprestasi kota Tangerang mau diberangkatkan ibadah haji kok sampai sekarang dari angkatan 2006 belum yah ? tanya dong pak sama mereka yang di atas, masalahnya kalau umroh hampir setiap perlombaan selalu ada pergi haji kok belum sich,oh yac pak tautkan dong ke webb saya (www.gec_bn.com)

  8. aku ga nerti apa-apa tentang itu, tapi yang ku taunya
    semua hal itu tak kan menjadi lebih baik bila MEREKA yang diATAS ga pernah berniat serius tuk menjadi lebih baik……

    @Rendy : Wah gak pa.. pa.. Ren, mau berkunjung saja saya terima kasih. Ngeblog yuk

  9. terima kasih ibu telah berkunjung dan meninggalkan komentar di rumah sederhana ini.
    Guru selalu menjadi kambing hitam, dan memang sih kita guru sedikit yang kulitnya putih. Ketidaksehatan dinas mengurus guru banyak dikeluhkan teman=teman. Baru-baru ini tentang sertifikasi misalnya, banyak teman-teman yang mengeluh penentuan kuota tidak fair, pengurusan tidak cekatan dan macam=macam. Sepertinya kalau tidak menguntungkan dinas tidak di kerjakan dengan sungguh-sungguh.
    Paling-paling kalau kita kritik, kita akan diberi catatan merah.

  10. Pak Budi, saya juga pernah mengikuti jang pemilihan guru berprestasi. kendal yang diceritakan bapak, hampir sam dengan kendala yang saya hadapi. Saya pernah mengkuti ajang tersebut 2x, yang pertama say belum mendapatkan peringkat 10 besar, yang tahun ini alhamd. saya masuk peringkat ke-7 tingkat kabupaten Tangerang. Sebenarnya saya merasa sangat tidak puas dengan hasil penilaian panitia, karena ternyata nilai karya tulis saya adalah nilai tembak karena karya tulis saya tidak dinilai (katanya keselisut).Nilai karya tulispun keluar karena saya complain ke panitia. Kejadian inilah yang membuat saya menjadi malas untuk berkarya, karena kinerja panitia yang tidak profesional. Yang saya sedihkan dan sayangkan, pihak dinas pendidikan senantiasa meminta guru untuk profesional, tetapi mereka sendiri tidak profesional dalam kinerjanya. Yng saya lihat pelaksanaan ajang pemilihan guru berprestasi ini hanyalah sebuah proyek bagi mereka, khususnya dinas pendidikan kabupaten Tangerang. Saya memperhatikan proses sertifikai guru dan pemilihan guru berprestasi sangat tidak profesional di tingkat kabupaten tangerang ini.Semoga keluhan saya ini terbaca oleh Bapak kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangerang yang terhormat demi tercapinya peningkatan mutu kinerja karyawan Dinas P&K dan meningkatkan prestasi dan Mutu Guru di kabupaten Tangerang. Terima kasih.

  11. wah pak Budi, baru tau ada info lomba bikin blog untuk siswa, ntar saya cek dulu ke telkom.
    Ulun haja hanyar belajar, belum seminggu bikin blog… Tapi kalau di kabupaten HSU saingannya kurang barangkali lah?
    *-:)
    Pak Suhadi : untuk kita-kita yang baru/ pemula keikutan kita bukan target juara, namun dengan ikut kita bisa banyak belajar dengan para blogger yang sudah mahir. Saya pun juga pemula makanya saya berharap bisa ketemu dengan para pembibing untuk tukar informasi, “ya..itung-itung nyari pengalaman”. Salam hangat dari Ampah.

  12. iya. udah tak tautkan di blogku, Pak ikut mbimbing anak untuk ikutan olimpiade telkom se kalsel gak, tadi disekolahku ada brosur yang diantar pegawai telkom tentang lomba bikin blog untuk siswa. mudahan anak saya ada yang mau ikut trus kita bisa ketemu di banjar kaina

  13. O ya pak Budi, blog anda bagus sekali, mau ndak bapak tautkan dengan blog saya…
    Dan saya mau sekali seandainya Pak Budi mau memasukkan blog saya ke link Bapak. Makaseeeh..

    suhadinet>>dengan senang hati jika mendapat teman baru, tapi saya kesulitan karena Anda tidak memberikan link blog Anda.

  14. Anda benar sekali. Aneh ya, kok guru berprestasi hanya boleh dipilih satu kali, lha wong gubnur atwa bupati sapai kades bisa dipilih sampai 2X…
    Guru berprestasi cukup sekali… ha..ha…ha… bener juga ya.
    Pak Suhadi :saya usul ke pengawas… guru berprestasi harus iktu terus berlomba, kemudian jika memang juara terus harus di beri gelar kehormatan, mendapat tunjangan tambahan, mendapat kemudahan melanjutkan pendidikan, dan…..
    ironi khan? guru berprestasi tidak boleh berprestasi lagi, guru berprestasi tidak lulus sertifikasi, guru berprestasi buka rental untuk cari tambahan penghasilan. Guru yang yang aktif penataran, diklat, woksop tidak berkorelasi langsung dengan prestasi malah lulus sertifikasi. Sertifikat setumpuk tapi ngajar senin-kemis, perangkat tak bikin, masa kerja kurang 10 tahun malah lulus

  15. Jika kita pernah menyandang Predikat sebagai GURU BERPRESTASI dan tidak boleh ikut dalam ajang Pemilihan Guru Berprestasiberikutnya.setidak-tidaknya kita memiliki Piagam dari Bupati dan telah menikmati hadiahnya.Tetapi yang terpenting saat ini bagi kita adalah IMAGE, PRESTISE DAN Pe..De.. Abi..sss he..he.. Gimana setuju ngga…Saya salut kepada Pak Budi mau berbagikepada guru-guru karena bapak mempunyai kemampuan dan keahlian yang dimiliki OK> Maju terus selalu Berprestasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s