Bantuan Teknis Pengembangan Kurikulum

manat UUSPN serta peraturan-peraturan di bawahnya yang berhubungan dengan pengembangan kurikulum mengakibatkan fungsi dan tugas Pusat Kurikulum mengalami perubahan besar. Pusat Kurikulum yang pada pengembangan kurikulum 75, 84, 94 menjadi ujung tombak, setelah keluar UUSPN bukan lagi sebagai institusi yang mengembangkan kurikulum secara nasional. Badan Standar  Nasional Pendidikan (BSNP) memiliki wewenang dalam menetapkan StandarNasional Pendidikan, termasuk diantaranya adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan menjadi acuan utama sekolah dalam menyusun kurikulum masing-masing.Kebijakan Pengembangan Kurikulum

Perubahan wewenang pengembangan kurikulum nasional ini tidak menjadikan Pusat Kurikulum kehilangan pekerjaan. Tugas Pusat Kurikulum berubah antara lain menjadi membantu sekolah untuk mampu menyusun kurikulum sekolah masing-masing. Pekerjaan ini bukan pekerjaan yang ringan karena saat ini di Indonesia ada 43.461 SD; 12731 SMP, 4499 SMA, 2655 SMK, belum termasuk Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Luar Biasa dan madrasah. Banyaknya sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia tidak memungkinkan Pusat Kurikulum membantu sekolah satu persatu. Harus ada strategi agar sekolah mampu menyusun kurikulum masing-masing.
Dengan adanya hak maupun tanggung jawab sekolah untuk menyusun kurikulum masing-masing yang disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan kekhasannya maka diperlukan upaya untuk memberdayakan sekolah dan daerah agar mereka mampu memahami kebutuhan, kondisi dan kekhasan masing-masing. Harapannya adalah agar mereka dapat mengembangkan kurikulum yang mampu menjadi tulang punggung dalam meningkatkan kemampuan sumber daya manusia daerah tersebut melalui pendidikan yang berdaya saing nasional bahkan internasional sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing, baik dalam menciptakan sekolah bertaraf internasional, sekolah berbasis keunggulan lokal, sekolah mandiri maupun sekolah standar.
Diversifikasi Kurikulum

Pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan, potensi, dan kondisi daerah maupun sekolah memerlukan penerjemahan dari pihak sekolah maupun daerah tentang mau ke mana pendidikan di sekolah maupun di daerah itu. Pemerintah pusat tidak memiliki kemampuan untuk menerjemahkan ini sehubungan dengan kompleksitas dan variasi masing-masing daerah dan sekolah. Kemampuan untuk menerjemahkan kebutuhan, potensi, kondisi daerah, dan sekolah sehingga menjadi kurikulumsekolah masing-masing harus dimiliki oleh “stakeholder” daerah dan sekolah tersebut. Kemampuan ini diharapkan mampu membuat pengembangan kurikulum sekolah terus menerus berkembang sehingga menjadi kurikulum yang sesuai untuk sekolah dan daerah tersebut. Oleh karena itu bukan hanya penyusunan kurikulum sekolah saja yang penting, tetapi kemampuan untuk melakukan pengembangan kurikulum yang terus menerus lebih penting lagi. Siklus (penyusunan, pelaksanaan, evaluasi) dalam pengembangan kurikulum untuk mencapai kesempurnaan harus berjalan baik di tingkat sekolah maupun daerah. Stakeholder di daerah dan sekolah harus tahu kurikulum macam apa yang diperlukan oleh mereka.

Adanya kondisi tersebut di atas menumbuhkan pemahaman pada Pusat Kurikulum bahwa membantu sekali saja untuk mengembangkan kurikulum awal masing-masing sekolah tidak cukup. Yang penting adalah kemampuan sekolah untuk menyusun dan melakukan perbaikan terus menerus sehingga kurikulum sekolah masing-masing menjadi sempurna. Sehingga yang diperlukan adalah pemberdayaan daerah dan sekolah agar mereka akhirnya mampu secara mandiri melakukan pengembangan kurikulum masing-masing. Mereka menjadi mampu menyusun dan mengembangkan kurikulum masing-masing dan mampu berinisiatif kepada siapa harus mencari pertolongan jika mengalami kesulitan dalam perjalanannya melakukan penyempurnaan kurikulum. Itulah pentingnya pemberdayaan sekolah dan daerah.

Pemberdayaan Sekolah

Usaha pemberdayaan sekolah dan daerah dalam pengembangan kurikulum oleh Pusat Kurikulum dilakukan melalui bantuan teknis pengembangan kurikulum, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kab/kota. Di tingkat provinsi diharapkan adanya TPK yang memiliki kemampuan untuk melakukan pengembangan kurikulum sehingga mampu memberikan bantuan teknis pengembangan kurikulum kepada Tim Pengembang Kurikulum kabupaten/kota. Pemberdayaan di tingkat provinsi dikonsentrasikan pada usaha pengembangan kurikulum secara luas sampai dengan kemampuan tim untuk melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan kurikulum di daerah masing-masing. Pemberdayaan di tingkat kabupaten/kota dikonsentrasikan pada kemampuan tim untuk melakukan pendampingan pengembangan kurikulum di sekolah. Sehingga kompetensi melakukan analisis konteks untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, potensi dan kekhasan sekolah diperlukan.

Berbagai kendala untuk mewujudkan usaha pemberdayaan daerah dan sekolah agar mampu menyusun kurikulum masing-masing selalu ada. Pada awalnya, kemampuan staf Pusat Kurikulum yang kurang memadai merupakan kendala utama. Dengan melakukan pengembangan kemampuan staf sambil memberikan bantuan teknis ke daerah mengakibatkan staf bisa belajar sambil bekerja sehingga kemampuan terasah dan terserap cepat. Ketidakstabilan pendanaan untuk sosialisasi KTSP menyebabkan Pusat Kurikulum juga mengalami pemotongan dana yang cukup besar. Akibatnya perencanaan yang telah matang dilakukan pada awalnya menjadi sangat terhambat dalam pelaksanaannya sehingga ketidakpercayaan daerah pada Pusat Kurikulum timbul. Tetapi semangat daerah yang besar dalam menyambut kurikulum baru ini menjadi obat yang sangat mujarab bagi Pusat Kurikulum untuk berbuat yang terbaik bagi terlaksananya pendidikan yang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan, potensi dan kekhasan daerah.

Sampai saat ini dari hasil monitoring yang telah dilakukan oleh Pusat Kurikulum sebagian besar daerah telah memulai melaksanakan KTSP. Walaupun sebagian besar dari sekolah melaksanakan masih adopsi atau adaptasi dari model kurikulum yang ada. Diharapkan dengan bantuan teknis pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh berbagai pihak akan semakin mematangkan sekolah dan daerah tentang konsep dan filosofi KTSP sehingga mendorong mereka untuk menyusun KTSP sesuai dengan kondisi masing-masing.

Semakin kuat keyakinan tentang perlunya penyusunan kurikulum sekolah yang mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan dan disesuaikan dengan kebutuhan, potensi dan kekhasan sekolah masing-masing ketika saya datang di dua SMP yang berdekatan. Meskipun dua SMP ini berada di lingkungan yang berdekatan tapi ternyata kondisi muridnya sangat berbeda jauh. SMP A mempunyai peserta didik yang hampir seluruhnya datang dari kalangan menengah ke atas dengan prestasi belajar tinggi. Semua ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Sedangkan SMP B mempunyai peserta didik yang sebagian besar datang dari kalangan sosial ekonomi yang kurang beruntung sehingga bagi mereka segera lulus SMP dan bekerja untuk memperoleh penghasilan adalah tujuan utama bersekolah. Masing-masing sekolah tersebut akan menyusun kurikulum yang sangat berbeda. SMP A akan menfokuskan pada pelajaran dengan higher order thinking yang memungkinkan peserta didik memiliki cara berpikir akademis yang tinggi supaya mampu masuk perguruan tinggi. Sedangkan SMP B akan memperkaya mata pelajaran dengan kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan keterampilan-keterampilan untuk bekerja sehingga peserta didik merasa memiliki manfaat besar telah bersekolah di SMP B.

Dua SMP ini harus mampu menyusun kurikulum masing-masing yang sangat berbeda. Kompetensi minimal lulusannya akan sama, tetapi kompetensi tambahannya akan berbeda. Hanya dengan melakukan pemberdayaan daerah dan sekolah untuk mampu melakukan pendampingan penyusunan kurikulum pada kondisi yang berbeda-beda inilah maka pelaksanaan diversifikasi kurikulum seperti diamanatkan UUSPN akan terjadi.

Pemutakhiran Terakhir ( Kamis, 15 Juli 2010 09:45 )

Diah Harianti

(Kepala Pusat Kurikulum – Balitbang Depdiknas)

14 thoughts on “Bantuan Teknis Pengembangan Kurikulum

  1. Berbicara masalah kurikulum ini selalu membuat hati saya dan perasaan merinding ,bukan karena alergi namun sungguh sejak jadul yang namanya kurikulum itu sebagus-bagusnya kurikulum yang pasti kembali pada individu guru masing-masing selaku ujung tombak di lapangan.Kalau boleh berbicara jujur dari sekian puluh guru yang ada coba di tanya ,seberapa sih yang memang mencintai pekerjaan sebagai guru ini memang merupakan panggilan jiwa, maaf ya bukannya sok mau dibilang peduli ,memang pada kenyataannya di lapangan sering kita temui sebagaian dari adik-adik yang menjadi guru hanyalah sebagai pelarian dari pada tidak kuliah ataupun sulit untuk mencari pekerjaan yang lain, ini terjadi dilapangan ,banyak adik-adik yang seharusnya mumpung masih muda kuat dan sehat , coba deh benahi dulu diri kalian agar menjadi seorang pendidik sejati , jangan karen honor kecil ataupun lambat diangkat menjadi PNS eee la mbok jangan menjadi alasan untuk berjuang dan pengabdian kalian menjadi kendor,astagfirullohalazim ,maksud saya jadul untuk menjadi guru seorang guru itu tidak sesulit seperti sekarang ini, dan tanpa mmemikirkan berapa sih gajih guru itu ,seingat saya dengan gajih pokok seribu delapan ratus rupiah, banyak lho anak-anak Bangsa yang terpanggil menjadi pendidik,padahal mereka ini bukan golongan orang yang terpinggirkan,tapi memang dasarnya panggilan jiwa ya begitu deh , betul -betul pengabdian yang hebatttt menurut saya. Jadi kembali ke kurikulum tadi ,masalah pendidikn tadi tetap saja menjadi tanggung jawab sepenuhnya pada guru itu sendiri sebagai pelaksana,ingin hasil yang maksimal tentu saja kita harus instropeksi ,sudah cukupkah usaha dalam memperbaiki diri,tentang kedisiplian ,tanggung jawab selaku pengganti orang tua,maksudnya menyadari bahwa yang kita hadapi ini adalah bukan benda hidup jadi penangannya juga harus menggunakan hati,artinya butuh perhatian ekstra bagi anak-anak yang butuh kasih sayang,butuh perlengkapan sekolah bagi mereka yang cerdas namun mengalami kekurangan dalam segi ekonomi,dan sebagainya. Nah selanjutnya sebagai guru yang sudah lama berkecimpung dalam dunia guru mengguru ini ,saya mohon doanya supaya para guru yang sudah besertifikasi ini mendapat RidhoNya ,artinya dianugerahi kesehatan ,keselamatan dunia akherat ,dan tetap memiliki jowa pengabdian yang pantang surut, terima kasih kepada Pemerintah yang memberikan tambahan pendapatan bagi para guru yang dianggap memang sudah layak menerimanya.Dan bagi teman-teman yang belum mendapat giliran ya sabaaaar nanti juga dapat ,yang penting marilah kita bulatkan tekad kita memperbaiki diri dan pendidikan dewasa ini yang semakin membutuhkan banyak-banyak doa ,agar anak-anak bangsa ini cepat menyadari bahwa tanggung jawab kemajuan negeri ini bukan melulu ditangan para guru yang pada dasarnya sebagai manusia mempunyai keterbatasan jadi keikut sertaan orang tua selaku wali murid juga kita perlukan dukungannya,jangan hanya kalau berprestasi itu memang sudah selayaknya anakkkkku, namun kalau kurang pandai atau kurang cerdas nah…ini dia pasti gurulah yang di tuduh kurang becuslah atau guru nya apalah… pokoknya pada intinya pendidikan ini tidak bisa terlepas dari tanggung jawab kita bersama-sama. SALAM

    • dua komentar Anda di blog ini sungguh menggugah semangat saya untuk lebih berbakti, mengabdi. saya juga prihatin dengan komptetensi guru-guru kita. sebelum memberi kritikan kepada pihak lain saya lebih suka menyentil ke dalam korp kita yang masih perlu banyak pembenahan.
      terima kssih kunjungannya dan jangan bosan memberi komentar di blog ini

  2. Assalaamu’alaikum sahabat guru Mas Budies

    Saya kembali menyatu diri di dunia maya dalam keberkatan Ramadhan yang mulia ini setelah menghilang diri di maya atas musibah yang menimpa.

    Semoga kehadiran Ramadhan ini akan menyambung kembali silaturahmi kita.

    Blog dulu sudah terhapus dan kini saya kembali dengan blog baru yang berwajah serupa:

    http://webctfatimah.wordpress.com/

    Salam Ramadhan yang mulia dan salam mesra dari saya di Sarawak, Malaysia.

  3. Diknas masih memerlukan pemikir2 untuk memajukan kurikulum yang akan di bangun demi memajukan generasi yang akan datang😀 sukses untuk tim pengembang kurikulumnya.
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  4. Mungkin karena tim pemberdaya dari tingkat kabupaten/kota hingga kini belum maksimal, maka banyak dijumpai sekolah yang masih belum mampu menyusun KTSP secara baik. Bahayanya, jika karena “energi” IT yang sungguh luar biasanya itu, sekolah hanya kopi paste KTSP sekolah lain. Jelas ini, akan sangat mencelakakan sekolah bersangkutan.

    Selamat berlibur dan memasuki bulan puasa untuk Bapak dan keluarga.
    Semoga Tuhan mencurahkan ridho-Nya.

  5. kurikulum yang terbaik adalah kurikulum yang dilaksanakan sekolah dan berorientasi pada kemajuan dunia pendidikan serta mengakomodasi “kelebihan” daerah. (halah….kayak ya iya lah…..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s