Perbedaan GENDER

Indonesia telah mencapai kemajuan dalam meningkatkan kesetaraan dan keadilan pendidikan bagi penduduk laki-laki dan perempuan. Hal itu dapat dibuktikan antara lain dengan semakin membaiknya rasio partisipasi pendidikan dan tingkat melek huruf penduduk perempuan terhadap penduduk laki-laki, kontribusi perempuan dalam sektor non-pertanian, serta partisipasi perempuan di bidang politik dan legislatif.

Untuk mengukur kesenjangan partisipasi pendidikan antara penduduk perempuan dan penduduk laki-laki digunakan rasio Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK).(Seperti yang dikutip dalam “The UN guidelines Indicators for Monitoring the  Millennium Development Goals”, angka ini lebih baik daripada pembandingan jumlah absolut murid laki-laki dan perempuan.) Indikator itu diperlukan karena adanya perbedaan yang relatif besar antara jumlah penduduk perempuan dan penduduk laki-laki sehingga rasio jumlah siswa saja belum dapat menggambarkan kesetaraan dan keadilan gender. APK juga digunakan mengingat masih tingginya siswa berusia lebih tua dari kelompok usia yang semestinya (overage) sehingga APM baik di tingkat SD/MI,SLTP/MTs maupun SLTA jauh lebih rendah dibandingkan APK. (sumber)

Malam – dini hari tadi, Pak Sastro telah melakukan perbedaan gender. Jika dikaitkan dengan paparan di atas tentu PAk Sastro telah melakukan diskriminasi gender. Berita ini sudah barang tentu tidak boleh dibesar-besarkan, apalagi sampai diekspose dan diunggah ke media internet. Ide munculnya perbedaan gender ini tiba-tiba datang begitu saja. Acapkali ide-ide nyleneh muncul secara tiba-tiba tanpa sebuah perencanaan yang matang.  Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 12.00 (tengah malam), perserta pelantikan anggota pramuka dari penegak ke bantara telah mendekati arena pelantikan.

Dengan memanfaatkan kepiawaian ki Dalang Wowos, Pak Sastro menyelipkan acara renungan beberapa saat sebelum upacara pelantikan, yang nanti akan dipimpin oleh Kak Bayu.

Perbedaan gender yang dilakukan Pak Sastro boleh dibilang sukses. Hampir seluruh peserta pelantikan berisak tangis. Peserta pelantikan diajak untuk introspeksi diri.. Apakah, selama 15-16 tahun pernah mengucapkan terima kasih kepada orangtuanya? berterima kasih kepada gurunya?

Iringan musik gender yang dibawakan ki Dalang Wowos benar-benar menambah suasana menjadi lebih hening dan hikmat. Ki Dalang Wowos memang sangat piawai memainkan alat musik ini, mengikuti irama dan intonasi kalimat-kalimat motivasi yang dibawakan oleh Pak Sastro. Tak heran jika hampir semua peserta pelantikan banyak yang menitikkan airmata pada acara perbedaan gender ini.

Perbedaan gender yang dimaksud pak Sastro adalah memanfaatkan alat musik gender yang biasanya untuk mengiringi pergelaran wayang, tapi kali ini alat musik tersebut digunakan untuk mengiringi acara renungan pada kegiatan kepramukaan. Wah ini memang beda, selamat kepada anggota bantara yang baru dilantik.

33 thoughts on “Perbedaan GENDER

  1. This is my initial time i visit here. I discovered so many entertaining stuff in your blog, especially its discussion. In the a great deal of comments in your articles, I suppose I am only some of the one having all the enjoyment here! Keep in the great work.

  2. Mas Budies,

    Pertama kali saya keblog ini berkomentar soal perbedaan gender. foto-fotonya belum seperti yang sekarang, mungkin update? Melihat tampilan foto yang sekarang seorang sedang menabuh gamelan, saya yang merasa akrab dengan gamelan, apakah alat yang dipukul dengan dua alat penabuh itu gender standard Jogja Solo? Rasanya bilah-bilahnya terlalu sedikit dan dua alat pemukulnya terlalu besar? Mungkin modifikasi dengan instrumen musik klasik suku Dayak? Hal yang menarik! Saya juga berpikir gender Jawa itu bila dibikin diatonis mungkin bisa dikawinkan banyak instrumen daerah lain. Nada diatonis bila re dan la diatonis tidak dipukul kan jadi pelog-6.
    Kalau penggabungan dua musik dari dua etnis ini diserasikan misalnya menjadi MUSIK KLASIK BHINEKA TUNGGAL IKA siapa tahu bisa merebut minat anak2 muda?? Silakan bereksprimen

  3. hello pak… pa kbr?
    senang akhirnya bisa mampir kembali ke sini.

    kadangkala kita bersikap ‘rasis’ dalam gender untuk memproteksi anak2 perempuan kita dengan tujuan mulia.
    kalau sudah gini, kayaknya gpp kok pak…🙂

  4. Bentuk kreativitas yang sungguh menginspirasi, Pak.
    Pak Budi kuwi ana-ana bae, ah, jan luar biasa.

    Tapi memang benar,Pak, gamelan daya ngresepnya ke benak sungguh tak tertandingi oleh alat musik lain. Ini bagi saya, lho Pak.

    Salam kekerabatan.

  5. Mas Bud,

    Mungkin anda akan kaget apabila ada wanita yang menggugat kesetaran gender: kenapa pria boleh beristeri lebih dari satu sedang wanita tidak boleh bersuami lebih dari satu?? Adakah jawaban yang masuk akal diluar norma agama?
    Saya juga ingin tanya bagaimana bila isteri anda punyai suami lain disamping anda sebagai suami pertama? nKesimpulannya KESETARAAN GENDER ITU TIDAK BERLAKU MUTLAK.

    Perbedaan fungsi GENDER yang dilakukan pak Sastro itu sangat menyentuh. Apalagi kalau dilengkapi siter suling atau gambang. Mereka berempat menabuh bersama dibawah rumpun bambu, malam hari dengan penerangan damar atau uplik. Alunan musik Jawa yang syahdu dan lembut itu melatar belakangi geguritan yang dibawakan seorang laki-laki maupun wanita:

    ……Kenapa priya lan wanita kudu tansah rebut bener?
    apa bisa priya urip tanpa wanita?
    apa bisa wanita urip tanpa priya?

    gandhengna tangan-tanganmu
    rasakna geter alus liwat driji-driji iki
    nasulur sadawaning lurung ati lan tepising jiwa
    wanita perangane priya
    priya perangane wanita

    wutahing waspa wanita lan priya nalika pada dhuhkita
    semburing ludira kekarone ngadhepi bebaya
    kenapa priya wanita kudu rebut bener?
    rungokna panangising pawestri
    rungokna sesambating jalu

  6. walahdalah… ternyata sempet kepleset pengertian “gender”… ehehehehehe…
    jadi inget dulu pas pelantikan bantara ma laksana… hohohoho…
    ditutup matanya sbenernya ngantuk n bobo dikit lho… (bongkar rahasia)

  7. Kalo soal kesetaraan gender dlm mengenyam pendidikan di tempatku sudah dimulai tahun 1925 walau saat itu cuma 3 siswi yg masuk SD.
    Sekarang tidak ada lagi anak perempuan yg tidak sekolah cuma mau lanjutkan ke perguruan tinggi para orangtua memprioritaskan anak laki2.
    Di daerah saya, hal ini terjadi karena pertimbangan budaya bahwa anak laki2lah yg bertanggung jawab menjaga dan merawat orang tua di masa tua dan mengelola warisan.
    Anak perempuan toh pada saatnya akan menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s