Kreativitas turun temurun

Kreativitas dalam dunia pendidikan sangat mutlak diperlukan.. Guru sebagai agen perubahan harus selalu memberikan inspirasi kepada peserta didiknya. Kreativitas bukan hanya milik seniman, tetapi semua aspek kehidupan akan memerlukan kemampuan kreativitas untuk mengatasi masalah dan mendapatkan ide-ide yang memperbaiki karir, bisnis, dan hidupnya. Kreativitas menjaga gairah hidup dan kreativitas menjadikan hidup kita terus melaju.
Pada kenyataannya kita sering menjumpai bahwa orang-orang yang memiliki kreativitas malah diasingkan. Dianggap aneh dan menyalahi aturann yang sudah turun temurun tidak pernaah mendapat sanggahan. Usulan kreatif dari seorang guru mengenai uji petik rancangan kurikulum misalnya, ada yang meggolongkan sebagai bentuk perlawanan aturan.
lantas,.. apa kreativitas itu, siapa yang boleh kreatif? dalamm hal apa?

Pada suatu hari saya mencoba memberikan pertanyaan persoalan matematika pada salah satu kelas XI IPA. Seluruh siswa kelas itu menjawab dengan jawaban yang sama. Tidak ada yang berani atau yang mencoba memberikan jawaban berbeda dari apa yang dia pernah peroleh selama 11 tahun belajar matematika. Boleh jadi mereka takut disalahkan atau memang tidak pernah diajak untuk kreatif menanggapi sesuatu permasalahan.

Kita pun hampir bisa dipastikan akan memberikan jawaban yang sama seperti mereka. Pertanyaaannnya apa sih…? Baik, pertanyaan yang diberikan adalah, “berapa luas bidang segiempat jika diketahui panjang dan lebarnya 100m?”. Seperti disampaikan di atas, semua menjawab 10.000m2. tak ada yang menjawab 100 are, atau 1 hektar, atau 100 kuadrat atau jawaban lain yang masih memiliki makna sama.

Dari kejadian itu dapat dibayangkan jika siswa disuruh menggambar bebek, hasilnya pasti seekor bebek dengan model dasar angka dua dan menghadap kekiri. Atau jika disuruh menggambar pemandangan pasti akan ada gunung, matahari dan pematang sawah. Mengapa demikian? ya… karena memang diajarinya seperti itu.

Pada suatu kegiatan pelatihan guru tingkat provinsi dengan tema PAIKEM saya mengajukan interupsi kepada penyaji materi PAIKEM. Bagaimana tidak protes? materi yang dibahas PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), namun dari awal sampai materi hampir habis sang penyaji hanya membaca slide dan tidak beranjak dari tempat duduknya.

“Bu,….. kalau jauh-jauh kami hanya disuruh membaca slide dan mendengarkan apa yang ibu baca, apa tidak lebih efektif file itu dibagi suruh baca sendiri,… saya sudah pernah membaca itu bu di internet.”… kawan sebelah saya malah menjawil dan menyalahkan saya, “Kok teganya kamu ngomong seperti itu”. Lho apa saya harus bilang, betapa ruginya saya datang kesini, menelantarkan siswa, meninggalkan keluarga, menggunakan uang negara, bla…bla bla.. atau bilang WOOOW gitu?

5 thoughts on “Kreativitas turun temurun

      • 14-Feb-1959 Sabtu Kliwon
        21-Mar-1959 Sabtu Kliwon
        25-Apr-1959 Sabtu Kliwon
        30-May-1959 Sabtu Kliwon
        4-Jul-1959 Sabtu Kliwon
        8-Aug-1959 Sabtu Kliwon
        12-Sep-1959 Sabtu Kliwon
        17-Oct-1959 Sabtu Kliwon
        21-Nov-1959 Sabtu Kliwon
        26-Dec-1959 Sabtu Kliwon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s